Takut itu Wajar

”Demi Allah, apa yang kalian takutkan? Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni gugur sebagai syahid di jalan Allah. Kita memerangi mereka bukan karena jumlahnya, bukan karena kekuatannya. Majulah ke medan perang, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama baiknya, menang atau syahid!”


Memori dalam Mimpi

Terdengar suara jeritan dari gadis kecil itu. Mereka berkelahi. Walau kalah jumlah, namun bocah laki-laki yang membelaku itu nampak tangguh. Wajahnya berdarah. Nampak darah segar dari kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa. Bapak itu melerai mereka. Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia mencoba mendekati bocah laki-laki yang telah menolongnya itu. Bocah itu terkapar di tanah. Wajahnya berdarah.


GADIS PEMBAWA WAHYU

Di atas dahan pohon besar itu, Wahyu berbaring. Hampir saja ia tertidur saat tiba-tiba saja Ia mendengar suara tangis dari bawah pohon tempat Ia bersembunyi. Wahyu terkejut, dan spontan terjatuh dari dahan pohon tersebut. Saat terjatuh, Ia mendengar suara jeritan seorang perempuan. Ia yang masih merasa kesakitan akibat terjatuh segera berbalik mencari sumber suara itu.






My Chemistry

Akhirnya cowok itu masuk juga. Tapi, bukannya dia mencari kursi siswa yang masih kosong, dia malah berdiri di depan kami dan memberi salam. Kaget rasanya, ternyata dia adalah seorang tentor yang menggantikan kak Arga, tentor kimia kami yang dulu. Mengetahui itu, akhirnya aku berfikir untuk mundur dari rencanaku untuk menjadikan cowok ini sebagai gebetan. ‘Gila apa, tentor sendiri di jadiin gebetan. Gak usah, deh.’ Batin ku menggerutu. Dari perkenalan singkatnya, dia menyebut namanya Yahya. Kak Yahya, begitu aku dan teman-teman ku memanggilnya.

IBU

Aku merasakan sakit itu lagi. Aku mengerang, Za terlonjak kaget melihatku. Suster memberikan pertolongan. Za tak henti-hentinya berteriak. Ia ketakutan. Aku masih dapat mendengarnya. ‘Aku menyayangi mu, nak. Kau harus kuat.’ Batinku dalam sela sakit yang kurasa. Suamiku datang bersama Rama, anakku. Rama menggendong Za keluar. ‘Ibu menyayangi kalian sayang.’ Batinku untuk terakhir kalinya.



 
Free Website templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates