GADIS PEMBAWA WAHYU

Di atas dahan pohon besar itu, Wahyu berbaring. Hampir saja ia tertidur saat tiba-tiba saja Ia mendengar suara tangis dari bawah pohon tempat Ia bersembunyi. Wahyu terkejut, dan spontan terjatuh dari dahan pohon tersebut. Saat terjatuh, Ia mendengar suara jeritan seorang perempuan. Ia yang masih merasa kesakitan akibat terjatuh segera berbalik mencari sumber suara itu.






----------------

GADIS PEMBAWA WAHYU



            “Kami panggilkan saudara Wahyu bin Razak, wakil dari kelas XII IPA 1, untuk menyampaikan sepatah kata kepada para guru, alumni, dan juga siswa-siswi yang hadir di tempat ini. Wahyu, silahkan !” Kata moderator dengan lantang.
            Seorang pemuda dengan tubuh tinggi, badan yang sedikit kurus, dan wajah yang cerah berjalan dari antara barisan siswa. Ia mengenakan baju muslim berwarna putih, celana kain hitam yang sebatas mata kaki, dan tak lupa peci haji berwarna putih bersih. Dari wajahnya, Ia nampak sangat bahagia, tapi juga nampak dari matanya sebersit perasaan ragu. Para hadirin serentak menjadi diam saat pemuda itu berdiri di atas podium.
            Saat berdiri di atas podium, pemuda itu tak lantas mengucapkan salam. Ia nampak kaku dan seakan ragu untuk tetap berdiri di atas. Matanya menyapu ke segala arah. Ia dapat melihat dengan jelas wajah teman-temannya, guru-guru, bahkan orang tuanya yang tengah menatapnya dengan penuh harap. Tatapan orang tuanya itu seakan berbicara padanya untuk segera memulai pidatonya. Pemuda itu tersenyum, lalu segera mulai berpidato.
*        *       *
            “Gak nyangka ya, Wahyu yang dipilih sebagai wakil dari kelas unggulan pada hari kelulusan ini.” Kata Rara, teman sekelas Wahyu saat di kelas 1.
            “Iya. Padahal dulu waktu di SMP dia itu anak yang bandel banget ya. Saya sampai kaget tadi.” Sambung Winda dengan tertawa kecil.
            “Hush, kalian gosip lagi. Wahyu itu memang nakal dulu. Tapi yang namanya hidayah bisa datang kapan saja.” Ari lalu memotong tertawaan dua temannya itu.
            “Kalian lagi apa sih ? Ngetawain saya ya ?” Wahyu tiba-tiba datang mendengar sahabat-sahabatnya sedang tertawa.
            “Eh, elo sob. Ini Rara sama Winda yang nertawain elo. Gue sama Ari justru belain elo di sini.” Kata Wawan sambil menjabat tangan Wahyu.
            “Gak kok Yu. Kita Cuma ingat elo jaman dulu aja. Dulu kan elo biang kerok. Sekarang justru jadi lulusan terbaik, dari kelas terbaik di sekolah unggulan. Hahaha.” Kata Winda lalu memecah tawa kelima bersahabat itu.
            Tawa mereka terasa sangat membahagiakan bagi Wahyu. Pemuda yang dulu dikenal sebagai biang kerok masalah itu, sekarang justru terkenal sebagai lulusan terbaik. Ia tersenyum mendengar perkataan sahabat-sahabatnya itu.
*       *        *
            Saat itu, Wahyu dan kedua sahabatnya masih duduk di kelas 4 SD. Mereka bertiga, Wahyu, Ari, dan Wawan sangat dikenal nakal di sekolah ataupun di kompleks rumah mereka. Dari mereka bertiga, Wahyu yang paling banyak dibicarakan. Wahyu sangat nakal bukan hanya di lingkungan bermainnya, tetapi juga di rumahnya.
            Ibu Wahyu sangat sering mengeluh dengan kenakalan anaknya. Entah karena apa, Wahyu menjadi sangat nakal sejak berusia 8 tahun. Namun, Ibunya tak pernah sekalipun memukul Wahyu atas kenakalannya. Ia sangat menyayangi Wahyu hingga tak sanggup memukulnya. Ayahnya lah yang sering memberinya pukulan. Tiap tingkah nakal Wahyu, selalu dibalas dengan pukulan oleh ayahnya.
            Kenakalan Wahyu terus berlanjut hingga lulus dari Sekolah Dasar. Karena khawatir dengan kenakalan Wahyu, orang tuanya lalu memasukkannya ke sebuah pesantren. Ari dan Wawan juga ikut dimasukkan oleh orang tua mereka masing-masing ke pesantren yang sama dengan Wahyu. Di sanalah Wahyu dan kedua sahabatnya itu memulai kehidupan mereka yang sesungguhnya. Kehidupan yang banyak mengubah jalan pikiran mereka.
            Awal mereka di sana, mereka terus melakukan pemberontakan. Kenakalan demi kenakalan terus mereka lakukan. Berbagai peraturan sekolah tak mereka hiraukan. Mereka sering membolos, melanggar tata tertib, bahkan mereka berani berpacaran di luar sekolah. Pihak sekolah sudah sering memberi mereka hukuman, tapi tetap saja mereka bertingkah seperti itu.
            Hingga suatu hari Wahyu bertemu dengan seseorang. Saat itu, sekolah mereka sedang mengadakan hari penerimaan raport. Seperti layaknya pesantren lain, selain siswa laki-laki juga ada siswa perempuan. Hanya saat penerimaan raport mereka dipertemukan dalam satu ruangan.
            Hari itu, seperti tahun pertama, Wahyu bersembunyi dan tidak ingin ikut dalam penerimaan raport tersebut. Ia takut bertemu Ayahnya saat menerima raportnya. Ia berbaring di atas pohon yang ada di belakang sekolahnya. Di sana ia tak terlihat, bahkan kedua sahabatnya pun tak tahu tentang persembunyiannya itu.
            Di atas dahan pohon besar itu, Wahyu berbaring. Hampir saja ia tertidur saat tiba-tiba saja Ia mendengar suara tangis dari bawah pohon tempat Ia bersembunyi. Wahyu terkejut, dan spontan terjatuh dari dahan pohon tersebut. Saat terjatuh, Ia mendengar suara jeritan seorang perempuan. Ia yang masih merasa kesakitan akibat terjatuh segera berbalik mencari sumber suara itu.
            “Aduh.. Sakit..” Lirih seorang gadis di belakangnya. Wahyu lalu segera berbalik dan mendapati gadis itu tengah memegangi kakinya yang Ia duduki.
            “Ah, sorry. Gue gak sengaja. Elo gak apa-apa kan ?” Tanya Wahyu sambil mencoba memegangi kaki gadis itu yang tadi Ia timpa.
            “Eh, jangan sentuh. Kita bukan muhrim.” Kata gadis itu tegas.
            “Lo siswi sekolah ini ? Ternyata ada juga yang cantik. Eeh, ngapain lo di sini ? Tadi lo kan yang nangis ?”
            “Iya, saya siswi sekolah ini akhi. Maaf kalau saya ngagetin antum tadi. Saya akan segera pergi.”
            “Tunggu. Lo kan belum nyebut nama lo. Gue Wahyu. Lo siapa ?”
            “Maaf, saya harus pergi. Afwan.”
            “Eh, tunggu.” Teriak Wahyu pada gadis itu. Tapi teriakannya tak menghentikan langkah gadis itu. “Dasar cewek sok alim. Baru diajak kenalan aja langsung kabur. Hehe, tapi cantik juga dia.”
            Baru saja Wahyu ingin kembali memanjat ke atas pohon itu, saat kakinya merasa menginjak sesuatu. Ia berbalik dan melihat ke bawah kakinya. Ia mendapati sebuah Hp di sana. Ia tahu betul Hp milik siapa itu. Wahyu lalu tersenyum dan segera mengambil Hp miliknya dari saku celananya.
            Setelah merasa yakin telah menyimpan nomor dari pemilik Hp itu, Wahyu segera memanjat kembali ka atas pohon. Ia tidak berencana mengembalikan Hp itu kepada pemiliknya. Ia justru akan menunggu pemiliknya untuk datang dan mengambil Hp itu sendiri.
            Beberapa menit kemudian, seperti dugaannya, gadis itu datang kembali ke bawah pohon tempat Ia berada. Saat mendengar suara langkah gadis itu, Wahyu melirik dan tersenyum melihat wajah gadis itu yang nampak cemas. Ia tak langsung memberi Hp itu kepada gadis tersebut.
            “Hei, nyari sesuatu ? Atau nyari saya ?” Tanya Wahyu dari atas dahan pohon.
            “Eh, afwan. Antum liat Hp saya ? Warna hitam dengan skrap bintang.” Tanya gadis itu polos.
            “Kamu polos banget ya. Keliatan jelas dari muka kamu. Sebenarnya saya gak mau balikin Hp ini, tapi ngeliat wajah kamu itu saya jadi kasian.”
            “Alhamdulillah, syukran akhi.” Kata gadis itu menjulukan lengannya ke atas pohon.
            “Ets, jangan senang dulu. Saya mau imbalan. Gak berat, saya Cuma mau tau nama kamu.”
            “Hmm, kamu berbuat sesuatu hanya demi imbalan ya ? Saya pikir kamu orang yang baik. Tapi gak apa, saya akan beritahu nama saya. Sebagai ucapan terima kasih saya. Fiqa, itu nama saya. Sekarang, tolong Hp saya.”
            “Jangan fikir yang aneh ya. Jujur, saya ini bukan cowok alim. Saya ini cowok nakal yang suka cari masalah. Sekarang saja saya disini untuk kabur dari Ayah saya. Hmm, ini Hp kamu. Maaf sudah ganggu kamu tadi. Kamu bisa hapus nomor saya yang ada disitu. Maaf saya lancang, tapi saya juga akan hapus nomor kamu kok.”
            “Syukran.” Kata gadis itu lalu beranjak pergi.
            Wahyu menatap gadis yang mengaku namanya Fiqa itu dengan tatapan iri. Mendengar kata-kata gadis itu tadi, Ia seperti merasakan sebuah aliran dalam dadanya. Kata-kata sederhana itu dapat membuat Ia gelisah. Saat sosok gadis itu sudah tak nampak lagi, Wahyu segera kembali berbaring di atas dahan pohon itu.
*        *        *
            Jam menunjukka pukul 10.25 malam. Wahyu, Ari, dan Wawan sedang duduk di teras asrama mereka sambil menikmati langit malam itu. Ari dan Wawan sibuk berbagi cerita, sedangkan Wahyu hanya duduk terdiam memandangi langit. Wajah gadis tadi siang membuatnya gelisah. Wajah saat memberi tahukan namanya. Wajah saat mengucapkan terima kasih. Bahkan wajahnya saat memberinya beberapa kata yang sangat berkesan di hatinya.
            “Im, tadi gue kenalan sama cewek. Cantik bro. Namanya Winda. Gue bahkan dapat nomornya.” Cerita Ari dengan penuh semangat.
            “Rara lebih cantik brai. Gue bahkan udah smsan sama dia. Lo rugi im, tadi lo keluar. Banyak yang cantik-cantik loh tadi. Gak semuanya yang alim. Hahaha.”
            Wahyu hanya tersenyum mendengar perkataan sahabat-sahabatnya itu. Ia tak membalas atau merespon lebih kegembiraan yang dirasakan kedua sahabatnya itu. Saat tengah sibuk mendengar celoteh Ari dan Wawan, tiba-tiba saja Hp miliknya berdering. Sebuah pesan singkat masuk.

From 08529954xxxx
“Assalamu’alaikum. Af1 ganggu akh. Ini sya Fiqa, yg td siang. Sbnarnya sya ingin mnghapus nomor antum, tp entah ada bisikn dari mana sya merasa haus mnanyakn sesuatu kpd antum. Bleh ?”

            Wahyu terlonjak kaget dengan SMS yang baru saja ia terima. Ia tak menyangka gadis itu akan mengirimkan sebuah pesan singkat untuknya. Apalagi setelah apa yang telah Ia lakukan pada gadis itu tadi siang. Wahyu lalu segera memperbaiki duduknya, dan mulai mengetik balasan untuk SMS gadis itu.

To 08529954xxxx
“Wa’alaikum slam. Kget sya mmbaca sms km. Ini sebuah kejutan. Km bleh nanya apa aja. Slahkan”

From 08529954xxxx
“Soal td siang. Antum blg antum sdg kabur dr Ayah antum. Mksudnya gmana ?”

To 08529954xxxx
“Kirain apa yg mau dtanya. Iy, sy kabur dr ayah sy. Klo sj ia mndapati sy, tentu ia akn memukuli sy lg. Nilai raport sy tentunya yg trendah, itu yg mmbuat ayah sy sgt mmbenci sy.”

From 08529954xxxx
“Astagfirullah. Bkn berarti beliau benci sm antum. Mungkin beliau hnya kesal. Af1 kalo sy ikut cmpur, tp sy pkir sbaiknya antum tdk brbuat sprti sm ayah antum. Bgmna pun beliau krja krs untk mnyekolahkn antum. Hargai beliau. Af1, sy sdh lncang mnasihati antum. Ya sdh, ini sdh mlam sy mau tdur dl. Af1 ganggu akhi. Assalamu’alaikum.”

            Wahyu terdiam setelah membaca pesan singkat dari Fiqa. Dia sudah sangat sering mendengarkan kata-kata seperti yang dikatakan oleh Fiqa padanya itu. Tapi entah mengapa, baru kali ini Ia merasa kata-kata itu sangat berarti. Ia dapat merasakan hatinya bergetar membaca kata-kata tersebut. Entah mengapa Ia merasakannya.
            Malam kian larut. Ari dan Wawan telah kembali ke kamar mereka masing-masing, sementara Wahyu masih saja duduk memandangi langit malam itu. Bulan purnama dan taburan bintang di langit menjadi sangat indah untuk di renunginya. Ia terus memikirkan kata-kata Fiqa tadi. “Kenapa dia peduli banget ? Dia kan gak kenal sama gue. Apa pedulinya coba ? Dasar cewek.” Batin Wahyu gelisah.
*        *        *
            Beberapa hari berlalu setelah pertemuannya dengan Fiqa. Sejak malam itu, Ia sering menceritakan berbagai masalahnya kepada Fiqa. Dan tanpa rasa jenuh, Fiqa pun selalu dan senantiasa menjawab masalah-masalah itu dengan perkataan-perkataan yang lembut namun sangat berkesan bagi Wahyu. Tiap nasihat yang diterimanya dari Fiqa dapat Ia rasakan di dalam hatinya.
            Perlahan namun pasti, Wahyu telah banyak berubah. Ia sudah rajin masuk kelas, Salat, mengaji, bahkan tarbiyah. Beberapa bulan berlalu dan Ia pun telah berubah jauh lebih baik dari dirinya yang dulu. Tak hanya dirinya, Wahyu juga mengajak dan membuat kedua sahabatnya menjadi lebih baik.
Setelah beberapa bulan, mereka tak lagi dikenal sebagai pembuat onar. Sebaliknya, mereka sering dipanggil ustadz. Wahyu yang memiliki suara yang bagus dipilih menjadi muadzzin mesjid. Ari sering dipanggil saat ada perlombaan Tawatil Qur’an. Sedangkan Wawan ikut dalam kelompok kasidah pesantren. Mereka telah membuktikan kelayakan diri mereka di pesantren.
Satu setengah tahun mereka lalui dengan baik. Mereka bahkan kini tak lagi menjadi siswa dengan nilai terendah. Melainkan, mereka dinobatkan menjadi siswa teladan pada penerimaan ijazah mereka. Rasa bangga dan senang tentu juga dirasakan oleh orang tua mereka. Wahyu tak lagi takut kepada Ayahnya. Ia bahkan merangkul Ayahnya saat naik menerima ijazahnya.
Saat penerimaan ijazah itu, Ia menyempatkan diri mencari sosok Fiqa diantara para akhwat. Bukan bermaksud tidak sopan, melainkan Ia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepada gadis yang telah membuat banyak perubahan dalam hidupnya itu. Namun sosok yang dinantinya tak kunjung ada. Nomor Hpnya pun tidak dapat dihubungi. Sesaat Ia merasa khawatir, namun segera Ia berhusnuzan. Ia tak ingin kekhawatirannya menjadi berlebihan.
Akhirnya, Ia berhasil mendapat kabar dari seorang teman Fiqa, Rara. Dari Rara, Ia tahu bahwa Fiqa baru saja pergi ke Singapura untuk melanjutkan studinya. Ia tak tahu kenapa Fiqa sebenarnya memilih Singapura untuk melanjutkan sekolahnya. Tapi Ia kembali berhusnuzan, dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Ia akan menjaga kenangannya bersama Fiqa di hatinya. Ia sangat merasa berutang budi pada gadis itu.
Fiqa, bagi dirinya adalah gadis yang telah membawa dirinya kembali ke dunia setelah sekian lama tersesat. Gadis yang telah menunjukkannya jalan yang harus ditempuhnya. Ia menyebutnya, Gadis pembawa Wahyu bagi dirinya. 
*        *        *


Catatan penulis :
Maaf kalau jelek, ini karya lama ku ^_^ saat mengenang seseorang 
Mohon kritik dan saran ya ^_^

by : Ki-chan



0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates