Akhirnya cowok itu masuk juga. Tapi, bukannya dia mencari kursi siswa yang masih kosong, dia malah berdiri di depan kami dan memberi salam. Kaget rasanya, ternyata dia adalah seorang tentor yang menggantikan kak Arga, tentor kimia kami yang dulu. Mengetahui itu, akhirnya aku berfikir untuk mundur dari rencanaku untuk menjadikan cowok ini sebagai gebetan. ‘Gila apa, tentor sendiri di jadiin gebetan. Gak usah, deh.’ Batin ku menggerutu. Dari perkenalan singkatnya, dia menyebut namanya Yahya. Kak Yahya, begitu aku dan teman-teman ku memanggilnya.
