Akhirnya cowok itu masuk juga. Tapi, bukannya dia mencari kursi siswa yang masih kosong, dia malah berdiri di depan kami dan memberi salam. Kaget rasanya, ternyata dia adalah seorang tentor yang menggantikan kak Arga, tentor kimia kami yang dulu. Mengetahui itu, akhirnya aku berfikir untuk mundur dari rencanaku untuk menjadikan cowok ini sebagai gebetan. ‘Gila apa, tentor sendiri di jadiin gebetan. Gak usah, deh.’ Batin ku menggerutu. Dari perkenalan singkatnya, dia menyebut namanya Yahya. Kak Yahya, begitu aku dan teman-teman ku memanggilnya.
My Chemistry
Suara musik menggema ke seluruh
sudut mobil honda jazz
putih yang ku kendarai. Lantunan lagu dari boyband Korea EXO, terus berganti
dari lagu satu ke lagu selanjutnya. Mulai dari album pertama mereka ‘MAMA’ yang
debut pada tahun 2012, hingga album yang baru mereka luncurkan tahun 2017 ini.
Suara musik ini seirama dengan
perasaanku sekarang. Aku baru saja pulang dari acara promnight angkatan 2014, Mahasiswi
kedokteran Universitas Hasanuddin. Yaahh akhirnya.. cita-citaku dari kecil,
keinginan orang tua ku, dan harapan keluarga ku sekarang terwujud. Perasaan
senang, puas, bangga hari ini campur aduk. Terlebih saat tadi pagi melihat
kedua orang tuaku meneteskan air mata bahagia saat malihat putri kecil kesayangan
mereka ini telah mendapatkan gelar ‘S.Ked’.
Aku memutuskan untuk mampir ke
kafe yang biasa aku datangi. Kafe ini adalah saksi usaha, keringat dan kerja
kerasku sampai sakarang aku menjadi seorang sarjana kedokteran. Yap, tempat ini
adalah tempat aku selalu nongkrong untuk menyelesaikan tugas-tugas saat SMA
sampai tugas-tugas kampus. Wahh tempat ini sangat berjasa ternyata^^. Tempat
ini juga mengingatkanku pada seseorang yang spesial, bahkan sangat spesial bagiku
dari dulu hingga sekarang. Sejak pertama aku mengenalnya sampai sekarang. Walau
sekarang aku tidak tahu dia berada di mana.
Mengenang hal itu, membuat ingatan
ku melayang menuju empat tahun yang lalu, tahun 2013. Saat itu aku masih kelas
XI semester genap di Madrasah Aliyah. Aku mengikuti bimbingan belajar di luar
sekolah. Saat itu aku mempunyai seorang sahabat, Ain namanya. Kami selalu
bersama, melakukan sesuatu selalu bersama, termasuk saat mengikuti bimbingan
belajar.
Sore itu kami berangkat bimbel
barsama. Saat memasuki tempat bimbel itu, kami melihat seorang cowok duduk di
kursi tunggu sambil membaca Koran. Aku maupun Ain berfikir dia adalah murid
baru di kelas kami. Saat itu juga Ain dan aku kegirangan, karena di kelas kami
belum ada cowok sebelumnya. Saat itu Ain telah memiliki seorang pacar sedangkan
aku masih jomblo. Akhirnya, kami sepakat untuk menjadikan cowok itu sebagai gebetanku.
Aku akui saat pertama melihat cowok ini aku sudah tertarik padanya, dia manis,
sedikit lebih tinggi dariku, dan kelihatannya dia cowok yang pintar.
Jadwal pelajaran kami hari itu
adalah Matematika dan Kimia. Jam pelajaran pertama telah dimulai. ‘Mengapa cowok tadi tidak masuk kelas, ya ?’
Tanya ku dalam hati. Setelah istirahat, jam pelajaran kedua pun dimulai.
Akhirnya cowok itu masuk juga. Tapi, bukannya dia mencari kursi siswa yang
masih kosong, dia malah berdiri di depan kami dan memberi salam. Kaget rasanya,
ternyata dia adalah seorang tentor yang menggantikan kak Arga, tentor kimia
kami yang dulu. Mengetahui itu, akhirnya aku berfikir untuk mundur dari
rencanaku untuk menjadikan cowok ini sebagai gebetan. ‘Gila apa, tentor sendiri di jadiin gebetan. Gak usah, deh.’ Batin
ku menggerutu. Dari perkenalan singkatnya, dia menyebut namanya Yahya. Kak
Yahya, begitu aku dan teman-teman ku memanggilnya.
***
Suasana kafe mulai ramai, aku
masih duduk di kursi pojok favoritku sejak dulu. Aku masih belum memesan apa
pun. Mata ku masih menerawang, menembus kenangan empat tahun lalu itu.
Pertama kali kak Yahya mengajar,
ia membuatku lebih tertarik. Dia sangat pandai membuat kami mengerti tentang
materi yang dia jelaskan. Sejak saat itu aku selalu meminta tambahan pelajaran
setelah jam bimbel usai dan dia tidak pernah keberatan. Dia selalu membantuku
mengerjakan tugas-tugas kimia dari sekolah, membantuku belajar saat menjelang
ulangan harian. Memang itu wajar, itu adalah tugas seorang tentor dan aku
menyukai cara mengajarnya.
Kami menjadi sering bertemu, baik
di dalam maupun di luar kelas bimbel. Aku sadar, saat pertama kali menyukainya
dan mengetahui dia adalah seorang tentor kimiaku saat itu aku berfikir untuk
mundur, tapi ternyata aku tidak melakukannya. Perlahan aku mempunyai perasaan
padanya. Walau aku belum tahu persis perasaan apa ini, entah ini hanya sekedar
kagum atau aku sungguh menyukainya.
Kak Yahya seorang cowok kelahiran
16 maret 1994, Mahasiswa jurusan Pendidikan Kimia semester empat. Ya, dia lebih
cepat setahun, hasil dari kelas Axelerasi sewaktu dia masih SMA dulu.
“Misi
mbak,” Suara
ramah pelayan kafe ini membuatku tersadar dari lamunanku tadi.
“Mau
pesan apa?” Tanya wanita pelayan kafe ini lagi pada ku. Ternyata
mejaku masih
kosong, sepertinya aku terlalu menikmati lamunanku tentang kak Yahya.
“Lemonade”
Jawabku ramah.
Baru saja pelayan itu berjalan
menjauhi meja tempat ku duduk, aku kembali menerawang jauh. Ingatan ku kembali
ke tahun 2013, saat awal aku mempunyai perasaan pada kak Yahya. Sejak
mengenalnya, aku jadi lebih giat belajar, terutama kimia. Aku tidak ingin
mengecawakan kak Yahya yang sudah mengajarku, aku selalu ingin membuatnya
bangga. Aku selalu ingin menjadi anak yang pintar di hadapannya, sehingga aku
selalu belajar lebih giat untuk mendapatkan banyak pertanyaan yang bisa aku
tanyakan padanya. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu aku mempunyai lebih banyak
waktu bersamanya.
Mulai saat itu nilai mata pelajaranku
meningkat, terutama kimia. Dengan bangganya aku selalu memamerkan nila seratus
di setiap ulangan ku pada kak Yahya. Dan Kak Yahya pun selalu berkata, “selamat
dek, tetap semangat, tetap rendah hati, dan jangan cepat puas…” sambil
merasakan tangannya yang hangat di atas kepalaku dan mengacak-acak lembut
jilbab yang kupakai. Di samping itu, aku jadi anak kesayangan guru kimia yang
kata teman-temanku adalah guru yang paling galak.
Karena peningkatan nilaiku yang drastic,
aku mendapat tawaran untuk mewakili sekolah mengikuti OSN (Olimpiade Sains
Nasional) bidang kimia. Awalnya aku menolak, tapi setelah aku pikir ini bisa ku
jadikan alasan untuk lebih dekat lagi dengan kak Yahya, akhirnya aku
menerimanya. Dengan alasan ikut olimpiade, aku membujuk mama ku untuk
menghubungi kak Yahya. Aku ingin kak Yahya menjadi guru privatku menjelang
olimpiade. Awalnya dia menolak, aku putuskan untuk membujuknya sendiri
dengan mengirimkannya pesan lewat SMS. Dia
masih menolak, dengan alasan takut tidak bisa membagi waktu antara mengajar dan
kuliah. Tapi aku masih belum menyerah. Aku mengatakan padanya kalau dia masih menolak
aku akan mundur dari olimpiade.
Akhirnya aku berhasil
membujuknya, mulai hari itu kak Yahya resmi jadi guru privatku sampai hari
olimpiade. Setiap hari ketemu, belajar bersama, kami jadi makin dekat. Kak
Yahya tidak pernah mengeluh bosan mengajari ku. Dia selalu memberiku semangat
saat aku merasa bosan belajar, saat aku belum mengerti pelajarannya, dan disaat
aku ingin menyerah. Kak Yahya selalu berkata, “semangat dek yahhh..” dengan
senyum lebar di bibirnya memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun rapih
membuat hatiku meleleh dan terbius akan semua kata-kata yang keluar dari
mulutnya. Jeng..jeng.. aku rasa kak Yahya punya kemampuan hipnotis^^.
Hari olimpiade tiba. Takut,
cemas, gugup itu yang aku rasakan. Aku memutuskan mengirim pesan singkat untuk kak Yahya, isinya “kak, do’a in yahh J”. Dua
menit kemudian hp ku bergetar.“semangat dek, konesentrasi, jangan lupa
berdo’a J”
balasan
sms dari kak Yahya membuatku lebih tenang.
Setelah keluar dari ruangan,
kepalaku rasanya hampir terbelah. Soal-soalnya luar biasa rumit. Untung saja
ini semua demi kak Yahya, kalau bukan aku pasti sudah mundur. Hasilnya di
umumkan hari itu juga. Awalnya aku ingin segera pulang, karena aku merasa pasti
tidak akan menang. Tapi penasaran juga rasanya, aku ingin tahu ada di peringkat
berapa.
Dua jam kemudian hasilnya
dipasang di mading. Ternyata aku ada di peringkat sebelas dari lima puluh
perwakilan sekolah. Kecewa rasanya, bukan kecewa karena aku tidak menang atau karena
aku peringkat sebelas. Melainkan aku kecewa karena tidak bisa membuat kak Yahya
bangga.
Hp ku bergetar, ada SMS rupanya.
Aku membuka SMS itu, dan isinya “Gimana dek?” kak Yahya rupanya.
Ku ketik sms balasannya dengan kecewa
“Cuma peringkat sebelas dari lima puluh peserta. Maaf kak, kakak sudah capek
ngajarin tapi aku cuma dapat segituL”.
Balasannya masuk “Wah, nggak
gitu dek. Kakak tau kamu sudah berusaha. Buktinya peringkat sebelas dari lima
puluh peserta, hebatkan? Kakak sudah bangga sama kamuJ” Deg!
Jantungku berdetak tidak karuan, nafas ku naik turun, tiba-tiba terasa seperti banyak
bunga di hati ku. Wajah ku mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus. Waaahhh..
***
Suasana kafe mulai ramai. Banyak
yang datang berpasangan, ramai-ramai dengan teman mereka, bahkan ada juga yang
sendiri seperti ku. Aku rasa kafe ini tidak banyak berubah, hanya saja
lebih banyak pengunjung.
Lampion-lampionnya juga terasa lebih banyak dan jadi lebih beraneka bentuk yang
menarik. Seorang pelayan berjalan menghampiriku dengan sebuah nampan di
tangannya. Minuman yang tadi ku pesan baru saja tiba.
Tidak terasa ujian kenaikan kelas
sudah dekat. Bimbel ku pun hanya satu kali pertemuan lagi. Dan saat bimbelku
berakhir, bagaimana dengan perasaanku pada kak Yahya? Bagaimana kalau setelah
bimbel selesai aku nggak akan ketemu lagi dengannya? Fikiran itu selalu
mengganggu dan membuat aku khawatir. Akhirnya, setelah bimbel usai aku
membulatkan tekad untuk memberi tahu kak Yahya tentang perasaan ku. Bukan untuk mengajaknya
berpacaran, tapi hanya ingin mengungkapkan perasaan. Tapi akhirnya tidak
terjadi, Kak Yahya sudah pulang lebih dulu. Aku mencoba menyusulnya, namun
ternyata aku gagal. Akhirnya aku pulang dengan perasaan kecewa. Mungkin ini
adalah akhir dari perasaanku.
Sesampai di rumah, aku langsung
masuk kamar dan tidur. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya, karena aku tahu
itu akan membuat ku menangis akhirnya. Samar-samar terdengar dari luar kamar ku
suara mama yang sedang menelfon dengan seseorang. Seperti biasa, mama kalau
nelfon selalu heboh. Setelah nelfon, mama langsung mengetuk pintu kamarku
dengan hebohnya, dan tanpa menunggu jawaban beliau langsung masuk.
“Fiqa bangun dong..” Suara mama
membangunkanku, yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi karena suara mama yang
heboh saat menelfon tadi.
“Ada apa ma ?” Tanyaku yang masih
bingung dengan apa yang terjadi.
“Tadi mama habis telfonan sama tante Hasna.” Kata
mama.
“Ya, trus?” Tanyaku
lagi “Siapa tu tante Hasna?”
“Itu
loh, yang mama pernah cerita. Tantenya mama yang guru di Sengkang” jelas mama panjang lebar
“Oh,
yang mama fikir siapa tau kenal sama kak Yahya?” kataku sambil
mengingat sesuatu. Ya, mama memang pernah bercerita jika beliau berfikir Tante
Hasna, tante mama dan berarti nenek ku, itu mungkin saja pernah menjadi guru
Kak Yahya sewaktu Kak Yahya masih bersekolah di Sengkang. Mengingat Kak Yahya
itu berasal dari Sengkang, dan Tante Hasna berprofesi sebagai guru di Sengkang
kata mama waktu itu. ‘Memangnya Sengkang
itu kecil ?’ Gerutu ku saat itu.
“Iya..”Jawab
mama dengan semangat “Ternyata tante
Hasna kenal loh sama Yahya, dan nyatanya lagi Yahya itu anak walinya dan anak
kesayangannya dia” sambungnya dengan penuh semangat.
“Ah?
Serius ma? Kok bisa kebetulan gitu?”
Tanyaku tidak percaya.
“Iya.
Dan kamu tau nggak, pas mama cerita kalau kamu kenal sama Yahya tante Hasna langsung telfon Yahya. Beliau bilang Yahya waktu SMA
itu pernah ngomong mau balas budi ke tente Hasna. Dan tante Hasna mau kalau
Yahya itu ngebimbing kamu seperti dia ngebimbing Yahya dulu. Dan Yahya harus selalu ada untuk kamu”
Mama menceritakan sembari meniru perkataan Tante Hasna itu.
Wow.. Aku tidak bisa menjawab
lagi apa yang mama cerita kepadaku. Kaget, senang, dan tidak percaya rasanya.
Disaat aku berfikir tidak akan bertemu lagi dengan kak Yahya, saat aku fikir
ini semua sudah berakhir, ternyata Tuhan punya jalan yang lain untukku.
Setelah ujian kenaikan kelas, Kak
Yahya jadi guru privat ku. Aku jadi semakin serius belajar untuk menghadapi Ujian
Nasional. Kak Yahya tahu cita-citaku ingin jadi seorang dokter. Tapi aku merasa
pesimis dengan itu. ‘Apa mungkin ?’ Batinku.
Walau aku pesimis, kak Yahya selalu menghapusnya dengan dorongan dan semangat
yang selalu dia berikan kepadaku. Kak Yahya selalu berkata, nanti dia akan
punya murid di fakultas kedokteran. Kak Yahya sebenarnya takut dengan jarum suntik,
tapi dia berkata jika aku dokternya, dia tidak akan merasa takut.
***
Malam sudah mulai larut.
Pengunjung yang tadinya ramai sudah mulai berkurang. Di luar sedang gerimis,
aku berfikir untuk duduk di tempat itu sebentar lagi. Masih ingin rasanya aku menikmati
suasana kafe di sini, karena mungkin aku tidak akan punya waktu lagi ke kafe
itu. Setelah ini, aku harus fokus untuk jadi dokter magang di rumah sakit.
Setelah Ujian Nasional aku tidak
pernah lagi bertemu dengan kak Yahya. Dia semakin sibuk untuk PPL, aku juga
sibuk mengurus pendaftaran universitas yang ingin ku ikuti. Kami hanya
berkomunikasi lewat hp dan facebook. Itupun
kalau ada waktu luang. Semakin lama kami menjadi semakin kurang komunikasi karena
kesibukan masing-masing. Nomor hp kak Yahya yang aku punya sudah tidak aktif,
akunnya pun sudah jarang di buka.
Aku belum sempat menyatakan
perasaanku pada kak Yahya. Waktu itu aku masih terlalu takut, aku takut kalau
kak Yahya cuma menganggap aku anak kecil, yang perasaanya itu masih bisa
berubah-ubah, yang masih tidak serius, dan kak Yahya akan menjauh jika tahu
perasaan ku itu. Saat itu aku tidak siap jika kak Yahya akan pergi.
Tapi, sekarang aku bukan anak kecil
lagi, dan perasaan ku masih sama. Dan karena perasaan ku inilah aku bisa
mewujudkan cita-citaku. Dengan harapan suatu saat nanti aku akan bertemu dengan
kak Yahya. Dan disaat itu kak Yahya akan bangga padaku, disaat itu kak Yahya
jatuh cinta padaku
seperti yang aku rasakan empat tahun lalu padanya. Aku percaya suatu saat nanti,
entah itu kapan, aku pasti bertemu dengannya. Ini hanya masalah waktu, selama
empat tahun perasaanku tidak berubah dan jika membutuhkan empat tahun lagi, pada
saat waktu itu tiba perasaan ku akan tetap sama.

0 komentar:
Posting Komentar