Aku merasakan sakit itu lagi. Aku mengerang, Za terlonjak kaget melihatku. Suster memberikan pertolongan. Za tak henti-hentinya berteriak. Ia ketakutan. Aku masih dapat mendengarnya. ‘Aku menyayangi mu, nak. Kau harus kuat.’ Batinku dalam sela sakit yang kurasa. Suamiku datang bersama Rama, anakku. Rama menggendong Za keluar. ‘Ibu menyayangi kalian sayang.’ Batinku untuk terakhir kalinya.
IBU....
Aku tak tahu
kenapa aku masih bertahan dalam rumah tangga ini. Orang tua ku telah mengusir
ku. Mereka tak mau lagi aku mengunjungi rumahnya. Mungkin ini adalah kebodohan
ku. Tapi, ku yakini ini hanyalah ujian dari Allah semata. Ia ingin melihat
seberapa besar cinta ku pada-Nya. Oleh karena itu, akan ku jalani semua ini dan
akan kubesarkan anak-anakku dalam naungan-Nya.
* * *
Pagi yang
indah menurutku. Aku, seperti biasa melaksanakan sholat berjam’ah bersama 2
orang anakku, Rama dan Za. Mereka lah yang membuat aku dpat bertahan di sini
sampai saat ini. Entah bagaimana nanti jika mereka tiada. Walau aku tahu, suami
ku sangat menyayangiku. Namun, tetap saj ada jurang pemisah antara aku dan dia.
Setelah
sholat bersama anak-anakku, kubiarkan mereka menjalani ibadah bersama ayah
mereka di gereja. Ini telah berlangsung lama. Aku tak tahu harus bagaimana agar
anakku tak harus menjalani ibadah di gereja. Aku hanya bisa menanamkan
benih-benih Islam di hati mereka. Aku tidak dapat memaksa mereka untuk beragama
Islam, karena itu akan membuat suami ku memisahkan ku dari anak-anakku. Dan aku
tidak mau itu terjadi.
Aku hanya berdiam diri dalam kamar,
hingga tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang amat sangat. Kanker otak.
Penyakit ini sudah bersarang di tubuh ku sejak beberapa tahun lalu. Aku tidak
member tahu siapa pun, termasuk suami ku. Setiap hari aku menutupi kepala ku
yang telah kering dengan jilbabku. Aku tidak ingin anak-anakku melihat ku dalam
keadaan seperti ini.
Aku menahan sakitnya, dan terus
berusaha mencari obat penghilang rasa sakit ku yang diberikan dokter. Aku
menemukan botolnya, namun aku tak menemukan satu biji obat pun di dalamnya. Aku
lupa untuk membeli yang baru. Hampir setiap hari aku meminum obat itu, maka
wajar saja obatnya telah habis lagi. Aku terus menahan sakit ku.
Aku mencoba untuk berjalan. Aku tak
tahu, namun aku merasa aku tak dapat lagi bertahan dengan penyakit ini. Aku
hanya ingin memberi sesuatu yang selama ini selalu kusimpan untuk anak gadis
ku, Za. Aku hanya memikirkan untuk sampai di kamar Za, sebelum aku tak dapat
lagi bertahan.
Kamar itu tinggal beberapa langkah dari jangkauan ku. Aku
terus berusaha melangkahkan kaki ku dengan kepala ku yang entah mengapa seperti
membawa beban yang sangat berat. Hingga akhirnya aku sampai di depn kamar Za.
Namun, tiba-tiba saja aku kehilangan kesadaran. Aku terjatuh dan tak dapat
mengingat lagi yang terjadi setelahnya.
* *
*
Aku membuka mata. Ku lihat seorang dokter dan dua orang suster
manatapi ku. Aku tahu, kini aku berada di rumah sakit. Kepala ku terasa sangat
berat. Sebuah alat pernafasan menutupi wajahku. Aku berusaha membukanya. Aku
hanya ingin dokter memanggilkan Za untukku. Aku ingin melihat anakku untuk
terakhir kalinya.
“Ada apa, bu ? Ada yang ingin ibu sampaikan ?” Tanya dokter
itu kemudian.
“Dokter, tolong panggilkan anakku. Za.” Kata ku terbata-bata.
“Baik, bu.”
Dokter itu melangkah keluar
ditemani seorang suster. Sedangkan suster yang lain membantuku untuk memasang
kembali alat pernafasan ku, kemudian sibuk dengan alat-alat yang lain. Aku
berusaha bertahan dengan rasa sakit ku. Aku lalu memberi isyarat kepada suster
itu untuk membantuku membuka liontin yang ku kekanakan di balik jilbab ku. Suster
itu membantu ku, lalu memberikan liontin
itu kepada ku.
Tidak lama kemudian, seorang suster datang bersama anakku.
Lalu, ia membantu anakku untuk duduk di samping ku. Dengan begitu, dapat ku
lihat dengan jelas wajah anakku yang tengah terisak. Aku tahu ia sedih melihat
ku begini. Tak seharusnya aku membiarkan anakku melihat ku dalam keadaan
seperti ini. Tapi ku yakin, ia bisa bertahan untuk tidak sedih lagi.
Kubuka alat pernafasan ku. Ku raih tangan mungil anak
perempuan ku itu dan ku genggam erat. Ku rasakan tangannya bergetar. Lalu
sebuah aliran bening membasahi pipinya.
“Ibu...” katanya kemudian dengan suara yang bergetar.
“Sayang, kenapa kamu nangis ? Ibu tidak apa-apa sayang. Kamu
jangan nangis, ya. Ibu tidak mau kamu nangis. Ibu mau kamu kuat, jangan manja
begini. Nanti kamu akan merepotkan Ayahmu jika manja begini terus.” Kataku
dengan suara terbata.
“Ibu mau kemana ?”
“Ibu gak akan kemana-mana sayang. Ibu akan selalu ada disini,
di hati kamu. Kamu jaga Ayah dan Mas kamu, yah. Kamu juga harus janji sama ibu,
kamu gak akan nangis lagi apapun yang kamu hadapi nanti. Kamu satu-satunya
harapan ibu, Za. Jaga ini baik-baik !” Aku lalu memberikan sebuah liontin
kepada anakku.
“Ibu... Aku gak mau ibu pergi, aku sayang ibu.”
“Sekarang kamu keluar yah. Ibu mau istirahat. “
“Tidak, aku gak mau ninggalin
ibu sendiri di sini.”
Aku merasakan sakit itu lagi.
Aku mengerang, Za terlonjak kaget melihatku. Suster memberikan pertolongan. Za
tak henti-hentinya berteriak. Ia ketakutan. Aku masih dapat mendengarnya. ‘Aku
menyayangi mu, nak. Kau harus kuat.’ Batinku dalam sela sakit yang kurasa.
Suamiku datang bersama Rama, anakku. Rama menggendong Za keluar. ‘Ibu
menyayangi kalian sayang.’ Batinku untuk terakhir kalinya.
“Ashadualla ilaha illallah wa
asyhaduanna Muhammadarrasulullah.” Lirih aku masih bisa mengucapkannya.
* *
*

0 komentar:
Posting Komentar