Hari mulai senja, ketika aku sadar mama ku menelepon. Beliau sepertinya khawatir karena aku berada di luar terlalu lama. Air mata ku masih terus mengalir. Entah mengapa, air mata ku tak juga kunjung berhenti. Hati ku terus merasa gelisah, hingga membuat ku berpikir yang buruk. Ketidakhadiran Andhy membuat ku cemas dan khawatir.
Lembayung Cinta
Hujan gerimis disertai angin yang berhembus
cukup kencang, tidak menyurutkan semangat ku. Aku masih saja berjalan,
menyusuri tanah merah berbecek itu. Beberapa gundukan tanah itu telah ku
lewati. Akhirnya, aku tiba di satu gundukan dengan papan yang masih berdiri
tegak di atasnya. Tanah dan papan itu basah oleh air hujan. Nampak beberapa
rumput liar tumbuh di atasnya. Aku masih berdiri terpaku menatap gundukan itu.
“Aku datang.” Di balik payung biru ku, aku
tersenyum.
Aku lalu berjongkok di samping gundukan itu, di
samping kuburan itu. Ku pegang nisannya. Dan tanpa terasa mengalir dari pelupuk
mata ku air bening yang membasahi pipi ku. Ingatan ku kembali ke masa itu. Masa
di saat aku masih dapat melihat senyumnya, matanya, dan juga aku masih bisa
mendengar suaranya.
* *
*
“Nay, kenapa sih kamu gak mau nerima aku ? Kurang apa aku ?” Kata Andhy dari seberang
telefon. Aku diam saja mendengarnya.
“Nay, kenapa kamu diam terus ? Atau, ada seseorang yang kamu suka ?”
Katanya lagi dengan suara yang mulai serak. Aku masih tetap diam.
“Oke, kalau kamu memang gak mau ngomong. Aku bisa mengerti. Tapi aku gak
akan mundur begitu saja. Aku gak akan melepaskan kamu begitu saja.” Kali ini
suaranya terdengar lirih. Mataku mulai basah mendengar tiap kata-katanya.
“Dy, aku minta maaf.” Kataku pelan.
“Sudahlah, Nay. Aku akan terus berusaha bagaimana pun caranya. Ini
sudah mulai larut. Kamu istirahatlah, aku gak ingin mengganggu waktu mu.
Selamat malam, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam warahmatullah.” Tiitt, telefon terputus.
* *
*
Suara kokok ayam akhirnya menyadarkan ku bahwa waktu untuk bersekolah
telah tiba. Ku seka air mata yang sedari tadi membasahi pipi ku. Hiasan hitam
di bawah mataku nampak sangat mencolok dari sebelumnya. Aku segera bergegas
untuk membersihkan diri dan bersiap ke sekolah. Senyum ku paksakan untuk terpancar
dari wajahku.
Mataku yang bulat, kini nampak menyipit.
Hidung ku yang memerah membuat ku seakan menjadi badut karena bentuknya yang mancung
itu.
Aku memoles bedak di wajah ku sedemikian untuk menghilangkan kesan
menyedihkan dari wajah ku. Untuk pertama kalinya aku memakai pelembab bibir ke
sekolah, agar bibir mungil ku tak nampak mengerut. Ku lihat wajah ku di kaca
datar itu. Nampak aneh dengan senyum yang sangat dipaksakan. Segera ku raih
ransel ku dan bergegas berangkat ke sekolah. Ku acuhkan pertanyaan Ummi dan Abi
ku yang melihat keanehan dari ku pagi itu. Begitu pula Alifah, adikku yang
terpaut dua tahun dari ku. Dia kini telah menginjak usia 14 tahun, sehingga Ia mulai
tahu gejala apa yang terjadi pada ku. Ya, aku juga sering curhat padanya.
Di sekolah, aku terus menundukkan kepala ku. Bahkan dari Amirah,
sahabat ku. Sejak bertemu dengan ku pagi itu, Ia tak henti-hentinya bertanya
ada apa dengan ku. Tapi aku terus menjawabnya dengan gelengan kepala dan
senyuman yang ku paksakan. Aku tahu, Andhy terus mengawasi ku. Aku bisa
melihatnya dari sudut pandang mata ku. Ia terus mengikuti ku, sehingga aku
dapat melihatnya setiap saat. Ah, dia selalu saja menyudutkan ku dengan kehadirannya.
“Nay, bicaralah.
Aku ingin tahu apa yang telah terjadi. Apa Andhy mengatakan sesuatu lagi ?”
Kini Amirah kembali bertanya saat kami baru saja selesai menunaikan shalat
Dhuhur berjama’ah.
“Tidak, tidak
terjadi apa-apa, Mir.” Jawab ku dengan suara pelan.
“Mata mu
mengatakan telah terjadi sesuatu. Di sini tidak ada Andhy, jadi kamu bisa
menceritakannya sekarang.”
“Tunggu keadaan
sepi.” Kata ku sambil melihat sekeliling.
Aku membereskan mukena ku. Begitu juga Amirah. Satu per satu teman-teman
ku yang lain pamit untuk kembali ke kelas lebih dulu. Aku dan Amirah hanya
tersenyum dan melambai pada mereka. Aku belum membetulkan jilbab ku. Aku
sengaja menunggu semuanya pergi, atau setidaknya hanya tertinggal beberapa
orang saja. Setelah ku rasa cukup aman, aku lalu merubah posisi duduk ku
menghadap Amirah. Aku memberinya sebuah cermin genggam, dengan alasan aku ingin
membetulkan jilbab ku
.
“Nay, sekarang
ceritalah.” Amirah berkata sambil menyimpan kembali cermin itu.
“Mir, aku tak tahu
harus menceritakan apa. Semuanya terasa sangat sulit. Semalam dia menelefon
lagi. Dan aku merasa sangat bersalah. Semalam aku tak bisa tidur, aku
melaksanakan shalat istikharah, lalu terus menangis sepanjang malam. Aku tak
tahu ada apa dengan diri ku. Tapi aku yakin, ini semua. . . .”
“Jangan katakan
itu lagi. Ini bukan salah siapa-siapa. Kalau boleh aku ingin memberi saran, aku
juga sudah memikirkan ini untuk kamu. Boleh ?”
“Tentu saja. Kamu
sahabat ku, aku pasti membutuhkan saran itu.” Aku tersenyum lembut.
“Aku pikir, kalian
sebaiknya berbicara empat mata. Kalian bicarakan semuanya baik-baik. Kamu pasti
tahu apa yang harus kalian bicarakan. Jangan membuat seakan kamu tak tahu, Nay.
Kamu juga ingin yang terbaik, begitu juga dengan dia.”
“Tapi, apa dia
bisa mengerti ?”
“Kalian pasti bisa
menyelesaikannya.” Amirah tersenyum lembut, lalu mulai membantu ku membetulkan
jilbab ku.
* * *
Matahari sudah mulai terbenam. Aku duduk di sebuah ayunan di tengah
taman kota. Es krim yang ku genggam mulai meleleh dan membasahi telapak tangan
ku. Dia hanya duduk sambil terus menatap ke arah ku, menunggu aku mulai
berbicara. Aku menatap ke depan, pandangan ku kosong dengan raut wajah yang
sangat menampakkan kegelisahan.
“Dy, kamu harus
berhenti.” Kata ku memulai, walau tak sedikit pun mata ku tertuju padanya.
“Berhenti ? Tidak
bisa, Nay. Aku berjanji untuk selalu menjaga dan menemani mu. Aku ingin kamu
menjadi pendamping hidup ku.”
“Kalau begitu,
bersabarlah dan bersikaplah wajar.”
“Berapa lama?”
“Sampai aku siap
dan kamu juga.” Aku menggerakkan ayunan ku pelan. Dari samping ku, aku
mendengar Andhy menghembuskan nafas.
Beberapa detik, hingga beberapa menit berlalu. Andhy tak juga bersuara. Aku tak tahu apa
yang ada dalam fikirannya. Aku hanya terus menjilati es krim ku sambil
menggerakkan ayunan perlahan. Dari sudut mata ku, aku melihat dia tak lagi
menatap ku.
“Oke, aku
mengerti. Tapi, aku takut kehilangan kamu, Nay.”
“Kamu masih bisa
terus melihat ku. Kita bersekolah di tempat yang sama.”
“Tapi setelah
kelulusan kita ini, aku tak akan lagi bisa menjaga mu.”
Kini aku berhenti
menggerakkan ayunan dan membalikkan badan menatapnya. Dia tak membalas menatap
ku. Pandangannya lurus ke depan. Aku tahu, ada sesuatu dalam fikirannya. Aku
terus menatapnya, berharap dia segera memberi penjelasan.
“Madina, itu tujuan ku
selanjutnya.” Katanya datar.
Aku menghembuskan nafas. Kembali aku merubah posisi ku menghadap ke
depan. Ku gerakkan ayunan perlahan. Untuk beberapa lama, kami berdua terus
berdiam diri. Aku tahu dia menunggu aku berbicara. Tapi aku tak yakin untuk
mengatakan apa yang ingin ku katakan. Aku lalu memutuskan untuk segera pergi
dari tempat itu. Walau terasa sangat menyenangkan, tapi aku tak ingin terlalu
lama berdua dengannya.
“Mau pulang ?”
“Ya.” Jawab ku
sambil berjalan meninggalkannya. Dia tak menahan ku.
Andhy bangkit dari ayunan tempat Ia duduk. Ia berjalan mendahului ku.
Saat aku tiba di gerbang taman, Ia telah menunggu dengan mobilnya di sana. Ia
membukakan pintu mobil dari dalam. Aku tak segera masuk, melainkan menutupnya
kembali dan berjalan meninggalkannya. Saat aku baru berjalan beberapa langkah,
sebuah tangan menahan ku. Aku segera menepisnya.
“Maaf. Aku akan
mengantar mu pulang.”
“Aku tidak ingin
ada fitnah. Pulanglah.”
“Oke, tapi biarkan
aku menjaga mu hingga kamu sampai di rumah.” Tanpa menunggu jawaban dari ku,
Andhy segera berlari kembali ke mobilnya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Aku berjalan kembali. Di belakang, Andhy mengikuti ku dengan mobilnya. ‘Madina ? Bagaimana aku bisa
yakin dengannya jika dia di sana ?’ Batin ku terus bergemuruh. Aku senang mendengar dia ingin bersekolah di
sana. Tapi, jika dia jauh apa aku bisa bertahan ? Aku tak tahu harus bagaimana.
Aku yakin, itulah yang juga sedang dipikirkan olehnya. Mungkin itulah alas an
dia ingin aku mengikat hubungan dengannya, walau cuma sekedar pacaran. Dia
mungkin merasa itu lebih dari cukup.
* *
*
Aku tahu dia telah berusaha keras. Pertama kali
mengenalnya di sekolah, dia masih dijuluki cowok playboy. Wajahnya yang kata
sebagian besar siswi itu manis, membuat daya tarik sendiri untuknya. Alisnya
tebal, matanya tajam, hidungnya mancung. Ada lesung pipit yang nampak sangat
manis jika Ia tersenyum. Suaranya lembut namun tegas. Dengan suaranya itu, dia
berhasil menjadi vokalist dari sebuah band di kota kami. Semua hal yang dia
miliki itu, membuatnya mudah mendekati gadis-gadis yang dia inginkan.
Saat bertemu dengan ku, mungkin dia juga
berpikir yang sama. Dengan semua hal yang dia miliki, dia merasa yakin aku akan
menerimanya menjadi pacarku. Setelah akhirnya aku menolaknya, dia justru
semakin antusias untuk mengejar ku. Dia mencoba berbagai cara untuk
mendekatiku. Mulai dari mengikuti ku kemana pun. Mentraktir ku apa yang ku
inginkan. Menghadiahkan ku berbagai hal. Dan berbagai cara lainnya, yang aku
respon negatif.
Setelah dia mungkin merasa lelah dengan
cara-cara seperti itu, akhirnya dia mencoba cara lain. Dia ikut menjadi anggota
remaja mesjid di sekolah kami. Dia juga ikut bimbingan belajar yang sama dengan
ku. Melihatnya mencoba dengan cara positif seperti itu, aku mulai berteman
dengannya. Setelah cukup dekat dengannya, aku tahu ternyata dia cowok yang
baik, humoris, berbakat, namun sedikit pemalas. Dia sering meminta saran kepada
ku. Dia juga sering belajar masalah agama dengan ku. Entah kenapa, beberapa
lama setelah aku dekat dengannya, aku tak lagi merasakan adanya niat dia untuk
mendapatkan ku.
Aku mencoba menyelidikinya. Setelah bertanya ke
teman-temannya, mencoba mengikutinya, dan juga memeriksa beberapa data
pribadinya, aku akhirnya tahu. Dia tak lagi berniat untuk mengejar ku. Murni
dia belajar agama, dan mengamalkannya. Dia juga mengubah cita-cita yang selama
ini dia pegang teguh. Dia membuang cita-citanya menjadi seorang penyanyi, dan
ingin menjadi seorang guru di sebuah pesantren. Entah mengapa dia memilih
cita-cita itu. Tapi, aku sangat bersyukur karenanya.
Semua perubahannya, membuat aku yakin dia tak
punya perasaan apa pun lagi kepada ku. Saat menyadari itu, entah mengapa aku
justru merasa sakit di dada ku. Saat memikirkan hal itu bahwa dia tak lagi
mencoba mendekatiku, aku tiba-tiba saja merasa sesak. Entah sakit dari mana
yang aku rasakan. Aku baru pertama kali merasakan hal itu, jadi mungkin membuat
ku sedikit sensitif. Aku hanya bisa tersenyum, mencoba mengurung perasaan tak
enak yang ku rasakan. Sehari-hari terus saja ku jalani dan mencoba bersikap biasa
saja.
Tepat saat kami baru saja selesai berlibur
panjang, dia tiba-tiba saja mendatangi ku. Dia nampak gugup, namun tak berusaha
untuk mundur. Dia mengatakan bahwa dia masih mencintai ku, bahkan semakin
menyayangi ku. Dia tidak meminta ku untuk menjadi pacarnya, melainkan menjadi
istri baginya. Dia berkata jika Ia ingin membawa orangtuanya, namun Ia ingin
memastikan jawaban dulu dari ku. Akhirnya, aku hanya menolaknya. Hingga
berkali-kali dia melamar ku, tiba-tiba saja dia berubah lagi. Kini bukan menjadi
istri, namun menjadi pacaranya. Tentu saja aku menolaknya. Itulah mengapa aku
harus selalu melakukan salat Istikharah. Aku hanya ingin mendapat jawaban yang
terbaik.
* *
*
“Madina ? Kamu yakin
?” Amirah nampak sangat terkejut mendapat kabar yang baru saja ku sampaikan.
“Saat kemarin dia
mengikuti, dia juga sempat berkata kepadaku. ‘Aku percaya pada mu, Nay. Kamu juga harus percaya pada ku. Aku akan
terus menunggu mu.’ Begitu katanya.”
“Mungkin kamu memang
harus percaya. Aku yakin, dia juga akan berusaha untuk percaya pada mu.”
“Begitu ya ? Makasih
ya, Mir.”
Kami lalu bergegas
pergi dari mesjid setelah aku selesai memakai jilbab ku.
* *
*
Handphone itu masih ku genggam. Tangan ku mulai
terasa basah. Aku tak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya aku menelponny,
memberi tahu apa yang telah aku putuskan. Semalaman aku berpikir, berusaha
menenangkan hatiku. Tapi mengapa kini aku kembali bimbang ? Aku seperti tak
tahu lagi apa yang telah aku lakukan. Di tengah kebimbangan ku itu, tiba-tiba
saja handphone yang sejak tadi ku genggam itu bordering. Nampak di layar nama
Andhy memanggil. Ah, apa ini sebuah kebetulan ? Atau ini sebuah takdir ?
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam warahmatullah. Nay, kamu lagi
di mana ?” Terdengar suaranya di seberang.
“Eh, di rumah. Kenapa ?”
“Aku mau ngajak kamu ke taman. Ada yang ingin
aku berikan. Kamu bisa kan ?”
“Iya, bisa.”
“Baik, kamu tunggu aku di taman ya. Aku akan
segera ke sana. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam warahmatullah.” Telepon tertutup.
‘Apa
yang akan dia berikan ? Ah, sebaiknya aku bergegas ke taman.” Batin ku gelisah. Aku lalu segera berjalan
menuju taman yang terletak beberapa blok dari rumah ku. Sepanjang perjalanan,
hatiku terus merasa gelisah.
*
* *
“Andhy ke mana sih ? Sudah satu jam dia belum
datang juga. Handphonenya juga tidak aktif. Apa yang terjadi sama dia ?” Aku
bergumam gelisah.
Di taman, aku duduk di sebuah bangku panjang.
Satu jam setelah Andhy menelepon ku, tapi dia belum juga datang. Aku terus berusaha
menghubunginya, tapi handphonenya tidak aktif. Hati ku mulai merasa sangat
gelisah. Aku terus menunggu walau pun aku tak tahu ke mana Andhy sekarang. Aku
berusaha bersabar, walau hatiku terus merasa gelisah. Tanpa terasa, air bening
mulai mengalir di pipi ku.
Hari mulai senja, ketika aku sadar mama ku
menelepon. Beliau sepertinya khawatir karena aku berada di luar terlalu lama.
Air mata ku masih terus mengalir. Entah mengapa, air mata ku tak juga kunjung
berhenti. Hati ku terus merasa gelisah, hingga membuat ku berpikir yang buruk.
Ketidakhadiran Andhy membuat ku cemas dan khawatir.
Ku seka air mata ku untuk kesekian kalinya. Aku
lalu bergegas bangkit dari bangku itu, dan mulai berjalan pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan tentang Andhy. Entah apa yang terjadi
padanya, tapi hatiku seakan merasa ada hal buruk yang telah terjadi. Kepala ku
terasa pusing memikirkannya. Jalan ku pun mulai lemas, dan pandangan mata ku
terasa buram. Baru saja aku berniat untuk berhenti sejenak, tiba-tiba saja
handphone ku bordering. Nama Amirah nampak di layar.
“Asslamu’alaikum, Mir. Ada apa ?”
“Wa’alaikum salam. Nay, kamu di mana ?” Suara
amirah terdengar parau di seberang.
“Di jalan, baru saja aku mau pulang. Kenapa ?”
“Nay, aku mau ngasih kabar buruk. Tapi kamu
jangan sampai pingsan ya ?”
“Apaan sih, pake pingsan segala. Ada apa
memangnya, Mir ?”
“Andhy, dia kecelakaan. Tadi waktu aku nengok
keluarga ku di rumah sakit, aku lihat orang tuanya. Mereka cerita, katanya
Andhy kecelakaan motor di jalan. Sekarang, dia…..” Suara amirah terputus.
“Dia kenapa, Mir ? Kenapa kamu diam ?”
“Andhy…. Dia…. Meninggal, Nay.” Suara Amirah
terdengar tertahan.
Aku terdiam membisu mendengar kabar yang baru
saja disampaikan Amirah. Seperti ada sengatan listrik, badan ku terasa bergetar
dengan hebat. Tangan ku yang memegang handphone tanpa sadar menjatuhkan
handphone ku. Kaki ku terasa lemas, lalu badan ku pun jatuh ke tanah. Mata ku
basah, berusaha menahan bendungan air yang seakan ingin meluap. Dan tanpa bisa
tertahan lagi, air mata ku pun mengalir dengan derasnya.
“Tidak, tidak, tidak…. Andhy tidak mungkin….
Andhy tidakk…. Dia…. Tidakk….” Suara ku terputus-putus.
Di pinggir jalan itu, aku terus menangis.
Bergumam tak jelas, hingga mengundang banyak mata untuk melihat ku. Aku tak
sadar lagi apa yang terjadi. Aku tak lagi mempedulikan sekeliling ku. Di
pikiran ku, hanya bayang wajah Andhy yang ku ingat. Aku merasa bersalah, sedih,
dan takut. Badan ku terus bergetar, hingga akhirnya aku pingsan.
* *
*
“Andhy, surat kamu sudah aku baca. Sekarang aku
juga sudah selesai kuliah. Di Madina, sama seperti keinginan mu.”
Hari itu, hari di mana Andhy meninggal. Aku
pingsan di pinggir jalan. Seorang pejalan kaki menolong ku dan membawa ku ke
rumah sakit. Saat sadar, Amirah dan kedua orang tua ku telah mengelilingi ku.
Amirah lalu memegang tangan ku, lalu menatap ku dengan pandangan nanar. Dari
tangannya, dia memberi ku sebuah kotak kecil dan sebuah surat. Aku lalu membuka
kotak itu. Sebuah cincin berlian yang sangat indah. Ku rasakan dari ujung mata
ku sebuah aliran bening mulai mengalir.
Aku lalu mengalihkan pandangan ke surat yang
diberikan Amirah. Sebelum membacanya, aku menatap Amirah sebentar. Dia
mengangguk pelan, lalu tersenyum lembut. Ku tatap Ibu dan ayah ku, yang juga
tersenyum lembut pada ku. Surat itu lalu ku buka perlahan, lalu mulai ku baca.
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Nayla,
Aku tahu aku cuma
seorang laki-laki biasa, yang tidak memiliki kelebihan apa pun. Aku bahkan
seharusnya sadar, aku tak pantas meminta kamu menjadi pacar ku. Aku tahu itu
salah, Nay.
Setelah pembicaraan
kita kemarin, aku memutuskan untuk memberi mu cincin ini. Aku tak ingin melepas
mu, tapi aku juga tak ingin melewatkan kesempatan belajar ke Madina. Aku tahu
aku ini egois, tapi inilah yang ku inginkan. Aku ingin melamar mu, menjadikan
mu bidadari yang akan menemani hari-hari ku.
Nay, mau kah kamu
menjadi permaisuri ku ? Menjadi makmum dalam tiap salat malam ku ? Menjadi Ibu
bagi anak-anak ku kelak ? Dan menjadi sahabat yang akan menemaniku ke mana pun
aku pergi ?
Aku akan membawa mu
ikut ke Madina, jika kamu menerima ku. Menerima ku menjadi imam kamu, menjadi
suami kamu, dan menjadi ayah bagi anak-anak kamu kelak.
Pakailah cincin ini
selamanya, jika kamu menerima ku. Jika tidak, kamu boleh membuang atau
menjualnya. ^_^
Maafkan aku jika selama
ini telah menyusahkan mu, aku selalu menyayangi mu, karena Allah.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Andhika Pratama
“Aku masih memakai cincin itu. Sangat indah.
Aku sangat berterima kasih pada mu. Berterima kasih untuk cinta yang selalu
kamu berikan pada ku. Cinta yang kamu perjuangkan untuk ku. Aku juga selalu
menyayangi mu selalu, karena Allah.”
Hujan gerimis tadi tak lagi ada. Langit pun
mengeluarkan sinarnya yang indah. Sinar lembayung di sore hari, sama seperti
saat aku menunggu di taman itu. Pelangi nampak dari kejauhan. Menambah indah
pemandangan sore itu. Aku lalu segera menyeka air mata ku, kemudian beridiri
dan bergegas pergi dari kuburan itu. Aku menatap kuburan itu sebentar, lalu
tersenyum lembut.
“Aku akan berusaha untuk mu, Dy.”
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar