Selama perjalanan, dia terus
saja menyuguhiku berbagai
pertanyaan. Dia bertanya seakan-akan
sudah sangat akrab
denganku. Aku tak tahu
apa yang kurasakan. Entah mengapa, aku
merasa nyaman saat
bersama dia. Dia anak
yang baik, namanya Amalia
tapi dia hanya
ingin di panggil dengan
sebutan Lia. Dia memakai
jilbab. Jika dilihat, dia sangat
anggun memakai jilbab
itu. Jika dibanding denganku, sangat jauh
beda. Aku sangat acak-acakan. Rambutku panjang
memang, tapi setiap hari
hanya ku kuncir kuda. Jika
dilihat seperti gadis
tak terurus. Bahkan banyak
yang mengatakan kalau
aku ini gadis
tomboy.
JANJI untuk SAHABAT
Sehari di
sekolah baru. Tapi, tak seorangpun
yang aku kenal
selain teman sebangku-ku. Aku memang
tidak ingin mengenal
maupun dikenal. Karena bagiku, mempunyai teman
hanya bisa membuatku
sedih di akhir. Aku tak
ingin merasakan kehilangan
untuk kedua kalinya. Cukup dengan
seorang saja aku
berpisah.
Aku terus berjalan lunglai ke arah
gerbang sekolah. Di sana tampak banyak
sekali murid yang
berlalu-lalang.
“Hei,
Gita. Kamu mau pulang ya?.“
Tiba-tiba seseorang dari arah belakang
mengagetkanku. “Ups, sory. Kamu
kaget, ya?,”
katanya sesaat
setelah aku berbalik. “Oh, kamu. Ada apa?” Tanyaku
setelah melihat orang
yang berada di
belakangku yang ternyata
adalah teman sebangku-ku..
“Aku
pengen ngajak kamu
pulang bareng kalau
kamu nggak di
jemput.” Jawabnya berusaha ramah
padaku. Aku hanya menatapnya
dingin tanpa menjawab. “Ehm, sorry kalau
kamu marah. Ya, udah. Aku balik
duluan aja.” Katanya sesaat
kemudian. “Eh, nggak, kok. Aku
nggak marah. Aku seneng
kamu ajak pulang
bareng, tapi aku nggak
mau ngerepotin.” Jawabku saat
melihat reaksinya yang
tiba-tiba merasa bersalah.
“Oh, nggak, kok. Aku justru
seneng kamu ikut
sama aku. Ibuku juga
pasti nggak bakal
ngelarang, kok. Kamu ikut, ya!”
Tiba-tiba saja dia
menjadi kembali semangat. “Ehm, ok, deh. Itung-itung irit
ongkos.” Jawabku setelah berpikir-pikir. “Ok. Itu mobil
Ibuku. Ayo!” Ajaknya setelah menunjukkan sebuah
mobil sedan warna
silver metalik yang
baru saja terparkir
di sudut jalan.
Selama perjalanan, dia terus
saja menyuguhiku berbagai
pertanyaan. Dia bertanya seakan-akan
sudah sangat akrab
denganku. Aku tak tahu
apa yang kurasakan. Entah mengapa, aku
merasa nyaman saat
bersama dia. Dia anak
yang baik, namanya Amalia
tapi dia hanya
ingin di panggil dengan
sebutan Lia. Dia memakai
jilbab. Jika dilihat, dia sangat
anggun memakai jilbab
itu. Jika dibanding denganku, sangat jauh
beda. Aku sangat acak-acakan. Rambutku panjang
memang, tapi setiap hari
hanya ku kuncir kuda. Jika
dilihat seperti gadis
tak terurus. Bahkan banyak
yang mengatakan kalau
aku ini gadis
tomboy.
* * *
Hari kedua
di sekolah ini. Hanya
Lia yang mau
bergaul denganku. Aku sebenarnya
lebih senang kalau
tak ada seorangpun
yang akrab denganku. Aku
sangat tidak menginginkan
perpisahan. Aku tidak mau
ada kesedihan di
saat aku harus
kembali berpisah dari
seorang teman.
Lia terus
saja mengajakku ngobrol. Aku
mulai berfikir untuk
menjauhinya. Aku yakin kalau
itu yang terbaik. Tapi, entah mengapa
aku tak bisa
menjauh darinya. Dia seperti
seseorang yang sudah
sangat kukenal.
Semakin kumencoba, semakin resah
kurasa. Dan Lia, dia tak
menyadari kalau aku
sedang berusaha menjauh
darinya.
“Git,
kamu nggak sholat?” Lia
tiba-tiba bertanya padaku
setelah dia memperhatikanku sejak
kemarin tidak melaksanakan
sholat Dhuhur di
sekolah seperti murid
muslim lainnya. “Ehm, itu, aku emang
jarang sholat.” Jawabku lumayan
gugup. Baru kali ini
ada orang yang
bertanya demikian padaku. Bahkan, Ayahku pun
tidak pernah menanyakan
hal ini padaku. ”Lho, kok gitu, sih? Kamu islam, kan?” Wajah Lia
menjadi bingung setelah
mendengar jawabanku. “Ya.”
Jawabku singkat.
“Tapi,
kenapa kamu jarang
sholat. Bukannya sholat itu
tiang agama? Dan ada
hadits lho yang
mengatakan kalau sholat
kita bagus, maka bagus
pula seluruh amalan
kita. Dan jika sholat
kita rusak, maka rusak
pula seluruh amalan
kita. Aduh, sory kalau kamu pikir aku
berniat menceramahi kamu. Tapi, aku takut
aja kalau hanya
karena sholat kamu
yang jarang, maka seluruh
amal baik kamu
juga jadi nggak
baik.” Celoteh Lia seakan
dia akan merasa
berdosa kalau aku nggak sholat.
“Hm,
aku terlalu banyak
pikiran sehingga waktu
untuk sholat jadi
kurang.” Jawabku sambil mendesah. “Kamu jangan
gitu, donk. Sholat itu harus
ada waktu tersendirinya. Dan, tau nggak. Sholat
itu membuat tenang
jiwa. Jadi, kalau kamu lagi
banyak pikiran, kamu sholat
aja. Insya Allah otak
kamu akan jadi
lebih tenang. Ya, udah. Kamu pikirin
aja yang terbaik
untuk kamu. Pasti kamu
juga bisa mempertimbangkan mana
yang baik dan
mana yang buruk. Kamu
mau ikut pulang
bareng lagi nggak?” Ajak
Lia setelah kembali
berceloteh panjang lebar.
“Ehm,
nggak usah, deh. Soalnya, aku mau
singgah di toko
dulu. Thanks, ya, atas
nasihatnya. Aku pasti akan
mikirin.” Jawabku dengan senyum
kecil. “Ya, udah. Aku balik duluan, ya. Bye. Assalamu a’laikum.”
Ucapnya sambil naik
ke atas mobilnya. “Bye, wa’alaikum salam.”
Balasku sambil melambaikan
tangan padanya.
* * *
Perkataan Lia
terus terngiang-ngiang di
telingaku. Lia betul, aku seorang
muslim. Tapi kenapa aku
jarang sholat. Padahal sholat
adalah tiang agama. Aku
tiba-tiba merasa ada
sesuatu yang mengganjal
hatiku dengan perkataan
Lia tadi. Aku terus
saja berjalan lunglai
menyusuri trotoar jalan. Otakku
penuh dengan pikiran-pikiran yang
aku rasa tak
ada ujungnya.
Aku berhenti
tepat di depan
masjid di samping
toko buku yang
aku tuju. Masjid itu
nampak sangat megah
kutatap. Aku tiba-tiba merasa
ada suatu getaran
yang menarikku untuk
memasuki masjid tersebut. Aku
berhenti sejenak, dan mulai
berfikir. Tuhan, apa ini yang namanya
hidayah? Batinku galau.
Baru kali ini
aku merasakan perasaan
seperti ini.
Suara azan
berkumandang dari dalam
masjid. Aku terkejut mendengarnya. Aku merasa
aneh mendengar suara
azan ini. Entah apa yang kurasa, selama ini
aku selalu mendengar
suara azan berkumandang. Tapi, azan kali ini terasa
aneh. Seperti ada magnet
yang berada dalam
setiap ayat-ayat azan
tersebut.
“Nak,
kenapa diluar saja? Ayo, masuk. Kamu mau
sholat, kan?” Tiba-tiba seorang wanita
paruh baya mengacaukan
lamunanku. “Eh, iya, bu. Saya
mau sholat.” Jawabku sedikit
tergagap. “Ayo!” Ajak Ibu tersebut
lembut padaku. Aku memasuki
masjid itu dengan
perasaan aneh. Aku berhenti
tepat di pintu
masuk masjid itu. Seakan
ada angin lembut
yang menyapaku. “Kamu berwudhulah
dulu. Tempat wudhu ada di sebelah
sana!” Kata Ibu tadi
sembari menunjukkan ruangan
mirip kamar mandi
di sebelah kananku.
Setelah melaksanakan
shalat Ashar di
masjid, aku seakan tidak
ingin pergi dari mesjid itu. Aku merasa
nyaman berada di
dalamnya. Hatiku terasa tenang
berada di dalam masjid ini. Aku
terus berada di
masjid hingga malam
menjelang. Setelah Ayahku menelfonku, aku segera
pulang.
* * *
“Lia,
aku mau
minta tolong padamu! Boleh?” Aku berusaha
untuk minta pertolongon
dari satu-satunya orang
yang memperhatikanku. “Tentu saja
boleh. Apa yang bisa
kubantu?” Jawab Lia dengan
senyum yang mengembang. “Aku mau
kamu mengajariku agar
bisa lebih paham
tentang Islam.” Kataku mantap. “Apa? Islam? Kamu kenapa
tiba-tiba ingin tau banyak tentang
Islam?” Tanya Lia heran
padaku. “Mendengar
kata-katamu kemarin, aku seperti
merasa kamu benar. Aku
muslim, harusnya aku tau yang terbaik
untukku agar aku
bisa terhindar dari neraka.”
Jawabku
“Hm,
aku jadi
senang mendengarnya. Aku pasti
bantu kamu.” Ucap Lia dengan penuh
semangat. “Thanks. Kamu satu-satunya yang
memperhatikanku. Tapi, aku
harap kamu jangan
merasa terlalu dekat
denganku. Aku tidak mau
melihat air mata.” Kataku
sembari beranjak meninggalkan Lia yang masih
duduk di bangku
perpustakaan. “Apa maksudnya?” Tanya Lia
pada dirinya sendiri.
* * *
Sudah sebulan
lebih aku terus
mengikuti semua yang
diajarkan oleh Lia. Aku
merasa nyaman melakukannya. Hanya satu
yang belum bisa
kulakukan. Aku tidak bisa
karena merasa belum
pantas. Hingga kini aku
merasa belum pantas
memakai jilbab. Dengan berbagai
dosaku selama ini, aku
merasa tidak pantas
memakai jilbab. Lia selalu
membujukku untuk mengenakan
jilbab. Tapi, aku terus saja
menolak dengan alasan
belum siap.
Tinggal sebulan
lagi, sebelum aku kembali
pindah rumah. Tapi, aku merasa
belum siap pindah. Aku
merasa tidak bisa
mempertahankan Imanku sendirian. Aku membutuhkan
seseorang seperti Lia yang bisa
terus mengarahkanku. Kini,
aku merasa sungguh
membutuhkan seseorang. Seseorang seperti
Lia.
“Git, aku mau
tanya sesuatu padamu.” Kata
Lia seusai kami
menunaikan sholat Dhuhur
di musollah sekolah. “Tanya apa?” Jawabku
tenang. “Kamu pernah berkata, kalau kamu
melarangku untuk merasa
terlalu dekat denganmu
karena tidak ingin
melihat air mata. Apa
maksudnya?” Tanya Lia dengan
sangat antusias. Aku lumayan
terkejut mendengar pertanyaan Lia. Aku
memang pernah mengatakannya, tapi kini
aku yang merasa
dekat dengan Lia. Apa
yang harus kukatakan? Haruskah aku menceritakan yang
sesungguhnya?
“Itu… aku hanya
tidak mau kamu
merasa sedih saat
harus berpisah denganku
hanya karena sudah
merasa dekat denganku. Karena aku
yakin, perpisahan antara kita
akan terjadi cepat
atau lambat.” Jawabku sambil
tertunduk. “Apa maksud kamu? Perpisahan apa? Sekolah
masih ada satu
semester, masih ada waktu
cukup lama untuk
kita bersama. Dan setelah
lulus SMP pun
kita masih bisa
lanjut sekolah yang
sama bukan?” Tanya Lia
heran.
“Kamu akan
tau jawabannya nanti. Aku
tidak bisa memberi
tahumu sekarang. Masih terlalu
cepat. Aku mohon kamu
jangan menganggapku special
atau menganggapku sebagai
teman dekat. Anggap saja
aku seseorang yang
hanya ingin mencari
ilmu denganmu. Seseorang yang
tidak penting untuk
diingat. Aku mohon!” Kataku sambil
berlalu ke kelas. “Tapi, Git. Aku tidak
bisa. Bagiku, kamu adalah seseorang
yang sangat istimewa. Kamu seseorang
yang bisa membuat
ku bahagia. Aku seneng
bisa dekat dengan
kamu. Bagaimana mungkin aku anggap kamu
hanya sebagai seseorang
yang tidak penting?” Tanya Lia
sembari mengejar langkahku
yang kupercepat.
“Aku
mohon sama kamu. Kamu
teman yang baik, aku
seneng bisa dekat
dengan kamu. Tapi, aku tidak
mau ada kesedihan
disaat aku harus
pergi. Jadi, aku minta agar kamu tidak
menganggapku sebagai orang
istimewa.” Aku berkata sambil
membelakangi Lia. Aku tidak
mau dia melihat
mataku yang mulai
membasah. Aku tidak mau
melihat dia sedih. Dan
aku tidak mau
melihat dia khawatir.
* * *
Semenjak percakapanku
dengan Lia hari
itu, aku selalu berusaha
menjauh dari Lia. Aku
tidak mau dia
merasa lebih dekat
lagi di hari-hari
terakhirku di sekolah
ini. Tinggal tiga hari
lagi sebelum aku
pergi dari kota ini.
Aku mulai mencoba
memakai jilbab. Mulai hari ini,
aku akan
keluar rumah sambil
membanggakan jilbab yang
kukenakan sebagai simbol
ke-Islamanku. Aku memakai jilbab
agar aku bisa
lebih dekat lagi
dengan agamaku. Dan juga, agar
aku bisa selalu
mengenang Lia sebagai
seseorang yang membuatku
berubah seperti saat ini.
“Gita, mulai sekarang
siapkan seluruh barang-barangmu. Kita akan
pindah tiga hari
lagi. “Kata Ayahku tadi
pagi. Kata-kata itu juga
berarti aku harus
berhenti sekolah mulai
hari ini. Ayahku sudah
mengirim surat permohonan
agar aku diberi
surat pindah dari
sekolahku sekarang. Aku tidak
akan bertemu lagi
dengan sekolah itu. Aku
juga tidak akan
bertemu lagi dengan
Lia. Rasanya sungguh berat. Tapi, ini adalah
kenyataan yang harus
kuhadapi. Aku harus kuat. Aku
tidak mau melihat
air mata.
* * *
Kenapa dua
hari ini Gita
tidak datang, ya? Apa dia
sakit? Aku harus kerumahnya
besok. Batin Lia setibanya
dirumah sepulang dari
sekolah.
“Assalamu a’laikum. Gita… Assalamu
a’laikum…. Hm, kok seperti tidak
ada orang, sih? Apa dia pindah?
Ah, tidak mungkin dia pindah tidak
memberi tahuku terlebih
dahulu.” Kata Lia setibanya
di depan rumah
Gita.
“Dek,
apa kamu
yang namanya Lia?” Tanya
seorang wanita paruh
baya yang sepertinya
tetangga Gita. “Eh, iya, bu.
Ada apa, ya?” Tanya Lia
heran. “Ini, ada titipan dari
Gita sebelum dia
ke bandara tadi
pagi.” Kata Ibu itu
sambil menyerahkan sebuah
amplop berwarna biru
tua dan sebuah
kotak berpita biru
tua.
Lia
membuka surat itu
perlahan. Aku tidak
tahu apa maksud
Ibu tadi. Gita ke
bandara? Apa yang terjadi? Aku
tidak mau berpikir
yang tidak-tidak. Aku yakin
Gita tidak mungkin meninggalkanku tanpa
memberi tahuku dulu. Perlahan Lia
membaca surat itu.
Kepada yang tersayang
Amalia
Assalamu a’laikum
warahmatullahi wabarakatuh
Hay, Lia. Saat kamu
baca surat ini
aku pasti sudah
ada di pesawat. Sorry, aku tidak
memberi tahumu terlebih
dahulu. Aku tidak sanggup
harus memberi tahumu. Saat
aku tulis surat
ini, air mataku tidak
dapat berhenti berkucuran. Aku merasa
sangat berat harus
berpisah dengan kamu. Kamu
sekarang pasti bertanya, kenapa aku
pindah dan kemana
aku pindah.
Pekerjaan Ayahku
menuntutku harus selalu
berpindah-pindah dari satu
kota ke kota
lainnya. Kamu pernah bertanya
kenapa Ibuku bisa
meninggal. Ibuku meninggal akibat
kecelakaan kereta api
saat kami pindah
rumah dan saat
itu usiaku baru
11 tahun. Sejak saat
itu, aku terus mengikuti
Ayahku berpindah-pindah.
Makanya aku katakan
padamu waktu itu, kalau
antara kita pasti
akan ada perpisahan.
Aku
harap kamu mengerti, kenapa aku
melakukan semua ini. Aku
akan pindah ke
Jogja. Tapi, aku tidak tahu
nanti akan kemana
lagi. Yang pasti, kamu harus
tahu kalau aku
tidak akan melupakanmu. Semua kenangan
tentang kamu, akan selalu
ada untuk kukenang. Oh, iya. Sekarang aku
sudah mengenakan jilbab. Gimana? Kamu seneng, nggak? Dalam kotak
yang aku berikan
ada beberapa fotoku. Juga
ada liontin berpasangan. Satu ada
sama aku dan
pasangannya untuk kamu. Simpan
baik-baik,ya.
Ingat, kamu jangan
sampai menitikkan air
mata saat membaca
surat ini. Karena aku
tidak ingin ada
air mata. Kamu harus
janji sama aku. Apapun
yang terjadi, kamu akan
menjadi temanku yang
terbaik. Dan juga, kamu harus
janji kamu tidak
boleh sedih. Aku tidak mau
melihat air mata
lagi dari sahabat ku. OK.. >_<
Dari temanmu
Sagita
Hermawan
“Ya, aku janji. Aku
akan selalu menjadi
teman terbaikmu. Aku akan berusaha
untuk tidak menitikkan
air mata lagi.
Aku janji.” Kata Lia
setelah membaca surat
itu dan mendapatkan
liontin dari Gita. Kini
ia paham apa
maksud Gita.
Hanya satu
kalimat untuk Gita
dari hatinya yang
terdalam,
“ Terima Kasih sudah
menjadi temanku yang
sangat baik, Gita.”

0 komentar:
Posting Komentar