Memori dalam Mimpi

Terdengar suara jeritan dari gadis kecil itu. Mereka berkelahi. Walau kalah jumlah, namun bocah laki-laki yang membelaku itu nampak tangguh. Wajahnya berdarah. Nampak darah segar dari kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa. Bapak itu melerai mereka. Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia mencoba mendekati bocah laki-laki yang telah menolongnya itu. Bocah itu terkapar di tanah. Wajahnya berdarah.


---------------------------


Memori dalam Mimpi



‘Apa ini?’ Terdengar suara tangis seorang gadis kecil. ‘Aku?’ Kurasakan pipiku basah. Mataku terasa sakit. Dadaku terasa sesak. Kucoba untuk membuka mataku. Tanganku basah. Aku terus menyeka air mata itu. Dari ujung mataku, nampak tiga orang bocah laki-laki. ‘Mereka lagi.’ Gerutuku. Tiga bocah itu terus mengejekku. Aku tak bisa mendengarnya dengan baik. Aku hanya tahu, mereka sedang mengejekku.

‘Hei, kalian!’ Terdengar suara seorang bocah lain yang mendekat. ‘Kalian jangan ganggu dia.’ Bocah itu tiba-tiba saja berdiri di hadapanku. Dia membelaku, lagi. Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas. Namun, aku tahu dia sedang membelaku. ‘Siapa dia sebenarnya?’ Aku mencoba untuk menatap wajahnya. Rambut cepak, kemeja hitam, dengan celana panjang hitam. ‘Siapa?’ Aku terus mencoba menatapnya, ketika tiba-tiba saja dia terjatuh.

Terdengar suara jeritan dari gadis kecil itu. Mereka berkelahi. Walau kalah jumlah, namun bocah laki-laki yang membelaku itu nampak tangguh. Wajahnya berdarah. Nampak darah segar dari kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa. Bapak itu melerai mereka. Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia mencoba mendekati bocah laki-laki yang telah menolongnya itu. Bocah itu terkapar di tanah. Wajahnya berdarah.

Gadis itu mengeluarkan sebuah kain dari sakunya. Dia mencoba untuk membersihkan darah-darah itu. Saat gadis itu menyeka darah di kepala bocah itu, aku dapat melihat senyumnya. Senyuman dari ujung bibir bocah itu. ‘Ah!’ Aku tersentak.
­­­­­-----------                                            

“Ohayou..Ohayou..Ohayou.. Ohayou gozaimasu onii-chan. Ohayou..Ohayou..Ohayou.. Ohayou gozaimasu onii-chan.”

Suara alarm di ponselku terdengar nyaring. Tangan ku merayap, mencari ponsel ku itu. Dapat. Aku menggenggamnya. Suara gemericik dari scraft ponselku terdengar meramaikan suasana pagi itu. Ku lirik layar ponselku. 05:00.

“Ohayou gozaimasu.” Kataku pelan lalu segera menonaktifkan alarm itu.

Segera aku bangkit, lalu berjalan menuju jendela kamarku. Setelah membuka kaca jendela, segera kuhirup udara segar yang berhembus ke arahku. Lalu, aku berbalik. Setelah mencuci wajahku di westafel, aku melihat ke arah cermin. “Mimpi, ya?” Kata ku pelan sambil mengusap perlahan keningku. Aku mencoba melupakan mimpi itu, lalu segera menunaikan salat subuhku.
***

“Mimpi lagi?” Fiqa sepertinya lebih terkejut dibanding aku yang mengalaminya.

“Jangan terlalu berisik.” Kucoba mengendalikan keterkejutan gadis itu.

“Tapi ini sudah berkali-kali. Apa kau tidak ingin mencari tahunya? Mungkin itu bagian dari masa lalu yang kamu belum kamu ingat.” Kata gadis itu lagi, namun kini dengan nada menyelidik.

“Fiqa, ini hanya mimpi. Yume.” Aku terus mencoba meyakinkannya.

Baru saja akan menjawab kata-kata ku, tiba-tiba sebuah bola melayang ke arah kami. Bola itu tepat mengenai kepalaku. Terdengar suara jeritan. Fiqa. Teman-teman lainnya hanya menatap ke  arah kami berdua. Aku segera bangkit mengambil bola basket itu. Lalu, dengan cepat Fiqa merebutnya. Tak menunggu lama untuk dia menemukan siapa pelaku yang telah melempar bola itu. Wajah Fiqa nampak merah. Dari arah lapangan, nampak beberapa senior yang sedang berdiri dengan wajah pucat.

“KAAKK RYYAANNN!!” Teriak gadis itu lantang.

Cowok bernama Ryan itu kini menjadi pusat perhatian. Beberapa murid yang duduk maupun yang sedang berjalan di koridor kini tengah menatapnya dengan tatapan heran. Namun, dengan wajah datar Ryan berjalan mendekati gadis yang menjeritkan namanya itu. Tak lama, terdengarlah suara Fiqa yang sedang mengomel tidak jelas.

Fiqa dan Ryan memiliki hubungan keluarga. Ayah mereka bersaudara. Ryan sering menginap di rumah Fiqa sewaktu kecil dulu. Aku mengenal mereka juga sejak kecil. Aku tinggal di kompleks yang sama dengan Fiqa. Sejak kecil kami sering bermain bersama. Walaupun sebenarnya, aku tak bisa ingat bagaimana kami dulu berteman. Kecelakaan setahun lalu membuatku kehilangan sebagian ingatan masa kecilku.

Dari ujung mataku, kulirik Ryan. Tangannya dimasukkan di saku celananya. Kulirik wajahnya. Datar. Ku lihat matanya, dia menatap ke arahku. Pandangan kami bertemu sejenak, lalu dengan cepat dia membuang muka. Aku masih menatapnya, heran. Kuperhatikan lagi wajahnya yang mulai memerah itu. Entah mengapa, kurasakan juga wajahku mulai panas. Mungkin sekarang wajahku juga sudah mulai memerah.

‘Apaan ini? Kenapa dadaku berdegup keras? Kenapa wajahnya merah?’ Berbagai pertanyaan itu muncul di benakku. Kurasakan dadaku sesak. Segera aku mengalihkan pandanganku. Dari sampingku, dapat kudengar Fiqa masih mengomel. Namun tak lama, dia kembali menjerit. Segera aku berbalik. Kulihat Ryan telah pergi berlalu dengan sebuah bola basket di tangannya. Kutatap wajah Fiqa yang memerah. Kebiasaannya yang tak pernah berubah jika dia sedang merasa kesal.

Tak lama, Fiqa segera menarik lenganku. Dia menarikku dengan setengah berlari. Hingga akhirnya kami sampai di kelas. Wajah Fiqa masih memerah. Dengan wajah manyun dia terus berceloteh tentang kekesalannya. Kelas XI IPS 1 terdengar sangat ramai oleh suara Fiqa yang sedang berceloteh. Namun, aku tak begitu menghiraukan celotehnya itu.

“Eh, tadi kamu lihat wajahnya merah gak?” Tanya Fiqa tiba-tiba.

“Ya, aku melihatnya.” Jawabku pelan sambil memperbaiki letak kacamata ku. Aku tak bisa menanggapinya dengan baik.

“Aneh. Yang aku tau, wajah Kak Ryan akan memerah kalau dia sedang malu. Apa dia malu tadi?” Aku tersentak mendengarnya. Badan ku terasa kaku, dadaku sesak, tubuhku pun menjadi dingin, tak bisa memberinya tanggapan yang sesuai dengan keinginannya. Hingga akhirnya lonceng tanda masuk berbunyi.
***

Mentari terasa sangat kubutuhkan saat ini. Hujan terus menderu di balik paying ku. Tetes demi tetes air terus membasahiku. Rasanya dadaku masih saja sesak. Entah apa yang harus kuperbuat. Bayangan wajahnya yang sedang memerah itu terus melintas di kepalaku. Kacamataku yang lembab membuat pandanganku semakin tak jelas. Kuputuskan untuk melepas kacamata itu, lalu kumasukkan ke saku jaketku.

Aku terus berjalan di bawah derasnya air hujan. Payung yang tadi kubawa baru saja kuberikan pada seorang gadis kecil yang kedinginan di pinggir jalan. Wajah gadis kecil itu mengingatkanku pada mimpiku. Mimpi yang telah berhari-hari kualami. Entah mengapa mimpi itu terasa tak asing. Namun aku sama sekali tidak dapat mengingat kapan kejadian dalam mimpi itu terjadi. Rasanya kepalaku terasa berdenyut ketika mencoba untuk mengingat kembali mimpi itu.

Aku masih berjalan di bawah derasnya air hujan. Kepalaku terasa sangat berat. Pandanganku yang tak jelas semakin rabun kurasa. Tubuhku mulai menggigil. Kakiku pun terasa mulai berat kulangkahkan. Kepalaku terasa semakin tak menentu. Dadaku yang sesak membuatku semakin sulit berjalan. Dan setelah itu, entah apa yang terjadi. Hanya gelap, hanya gelap yang ku lihat.
***

Terdengar suara jeritan dari gadis kecil itu. Mereka berkelahi. Walau kalah jumlah, namun bocah laki-laki yang membelaku itu nampak tangguh. Wajahnya berdarah. Nampak darah segar dari kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa. Bapak itu melerai mereka. Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia mencoba mendekati bocah laki-laki yang telah menolongnya itu. Bocah itu terkapar di tanah. Wajahnya berdarah.

Gadis itu mengeluarkan sebuah kain dari sakunya. Dia mencoba untuk membersihkan darah-darah itu. Saat gadis itu menyeka darah di kepala bocah itu, aku dapat melihat senyumnya. Senyuman dari ujung bibir bocah itu. ‘Ah!’ Aku tersentak. Bocah itu menggenggam tangan kecil gadis itu. Aku merasakan hangat dari tangan bocah itu. Sebuah scraft beruang dengan sebuah lonceng di bawahnya diselipkan oleh bocah itu. ‘Apa ini?’
-------------

Mimpi itu lagi. Aku baru saja membuka mataku, ketika kusadari aku mengalami lagi mimpi itu untuk kesekian kalinya. Kutatap sekeliling. Putih. Sebuah jendela besar di samping kananku menerangiku dengan cahaya dari lembayung. Kembali aku melihat sekelilingku. Seorang cowok dengan tubuh kekar sedang menatapku. Digenggamnya tanganku dengan kuat. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, bahkan setelah aku mencoba menyipitkan mataku. Tak lama dia segera mengambil sebuah jaket yang sangat basah di lantai. Dirogohnya saku jaket itu, lalu dengan cepat dia berjalan ke arahku.

Sebuah kacamata disematkannya di wajahku. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Ryan. Dia sedang menatapku dengan wajahnya yang sangat cemas. Kembali dia menggenggam tanganku. Kurasakan tangannya yang hangat itu. Ku lirik wajahnya yang sedang menatapku. Sebuah senyum dari ujung bibirnya nampak mekar. ‘Ah! Senyum itu.’ Aku mencoba bangkit dari tempatku berbaring. Terasa kepalaku sangat sakit.

“Jangan! Kamu istirahat saja dulu.” Kata cowok itu mencoba menidurkanku kembali.

“Kamu? Apa kamu yang waktu itu? Scraft itu?” Tanyaku dengan tergesa-gesa. Sejenak dia menghela nafas, lalu menunduk dan dengan pelan melepas tanganku.

“Ya, itu aku.” Kata Ryan dengan senyum khasnya.


Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Kurasakan mengalir beberapa tetes air dari ujung mataku. Hangat dari tangan Ryan menjalar ke tubuhku. Wajahnya masih tersenyum. Entah mengapa, mengetahuinya membuatku merasa lega. Dadaku tak terasa sesak lagi. Untuk pertama kali, aku merasa lega dan bahagia seperti saat ini. Walau aku tak bisa mengingatnya dengan baik, namun secara samar mimpi itu mengingatkan ku lagi. Mimpi itu membuka kembali memoriku yang hilang. Memori tentang dia. Memori tentang bocah itu. Ya, bocah itu Ryan. Bocah dalam mimpi ku itu, bocah yang menolongku itu. Dia Ryan. 


nb : 
Penulis : Zakiyah Taqiyah

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates