Terdengar suara jeritan dari gadis kecil itu. Mereka berkelahi. Walau kalah jumlah, namun bocah laki-laki yang membelaku itu nampak tangguh. Wajahnya berdarah. Nampak darah segar dari kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa. Bapak itu melerai mereka. Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia mencoba mendekati bocah laki-laki yang telah menolongnya itu. Bocah itu terkapar di tanah. Wajahnya berdarah.
Memori dalam Mimpi
‘Apa
ini?’ Terdengar suara tangis seorang gadis kecil. ‘Aku?’ Kurasakan pipiku basah. Mataku
terasa sakit. Dadaku terasa sesak. Kucoba untuk membuka mataku. Tanganku basah.
Aku terus menyeka air mata itu. Dari ujung mataku, nampak tiga orang bocah
laki-laki. ‘Mereka lagi.’ Gerutuku.
Tiga bocah itu terus mengejekku. Aku tak bisa mendengarnya dengan baik. Aku
hanya tahu, mereka sedang mengejekku.
‘Hei,
kalian!’ Terdengar suara seorang bocah lain yang mendekat. ‘Kalian jangan ganggu dia.’ Bocah itu tiba-tiba
saja berdiri di hadapanku. Dia membelaku, lagi. Aku tak bisa mendengarnya
dengan jelas. Namun, aku tahu dia sedang membelaku. ‘Siapa dia sebenarnya?’ Aku mencoba untuk menatap wajahnya. Rambut
cepak, kemeja hitam, dengan celana panjang hitam. ‘Siapa?’ Aku terus mencoba menatapnya, ketika tiba-tiba saja dia
terjatuh.
Terdengar suara jeritan
dari gadis kecil itu. Mereka berkelahi. Walau kalah jumlah, namun bocah
laki-laki yang membelaku itu nampak tangguh. Wajahnya berdarah. Nampak darah
segar dari kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa. Bapak
itu melerai mereka. Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia mencoba mendekati
bocah laki-laki yang telah menolongnya itu. Bocah itu terkapar di tanah. Wajahnya
berdarah.
Gadis itu mengeluarkan
sebuah kain dari sakunya. Dia mencoba untuk membersihkan darah-darah itu. Saat
gadis itu menyeka darah di kepala bocah itu, aku dapat melihat senyumnya.
Senyuman dari ujung bibir bocah itu. ‘Ah!’
Aku tersentak.
-----------
“Ohayou..Ohayou..Ohayou..
Ohayou gozaimasu onii-chan. Ohayou..Ohayou..Ohayou.. Ohayou gozaimasu onii-chan.”
Suara alarm di ponselku
terdengar nyaring. Tangan ku merayap, mencari ponsel ku itu. Dapat. Aku
menggenggamnya. Suara gemericik dari scraft
ponselku terdengar meramaikan suasana pagi itu. Ku lirik layar ponselku. 05:00.
“Ohayou gozaimasu.”
Kataku pelan lalu segera menonaktifkan alarm itu.
Segera aku bangkit, lalu
berjalan menuju jendela kamarku. Setelah membuka kaca jendela, segera kuhirup
udara segar yang berhembus ke arahku. Lalu, aku berbalik. Setelah mencuci wajahku
di westafel, aku melihat ke arah cermin. “Mimpi, ya?” Kata ku pelan sambil
mengusap perlahan keningku. Aku mencoba melupakan mimpi itu, lalu segera
menunaikan salat subuhku.
***
“Mimpi lagi?” Fiqa
sepertinya lebih terkejut dibanding aku yang mengalaminya.
“Jangan terlalu
berisik.” Kucoba mengendalikan keterkejutan gadis itu.
“Tapi ini sudah
berkali-kali. Apa kau tidak ingin mencari tahunya? Mungkin itu bagian dari masa
lalu yang kamu belum kamu ingat.” Kata gadis itu lagi, namun kini dengan nada
menyelidik.
“Fiqa, ini hanya mimpi.
Yume.” Aku terus mencoba meyakinkannya.
Baru saja akan menjawab
kata-kata ku, tiba-tiba sebuah bola melayang ke arah kami. Bola itu tepat mengenai
kepalaku. Terdengar suara jeritan. Fiqa. Teman-teman lainnya hanya menatap ke arah kami berdua. Aku segera bangkit mengambil
bola basket itu. Lalu, dengan cepat Fiqa merebutnya. Tak menunggu lama untuk
dia menemukan siapa pelaku yang telah melempar bola itu. Wajah Fiqa nampak
merah. Dari arah lapangan, nampak beberapa senior yang sedang berdiri dengan
wajah pucat.
“KAAKK RYYAANNN!!”
Teriak gadis itu lantang.
Cowok bernama Ryan itu
kini menjadi pusat perhatian. Beberapa murid yang duduk maupun yang sedang
berjalan di koridor kini tengah menatapnya dengan tatapan heran. Namun, dengan
wajah datar Ryan berjalan mendekati gadis yang menjeritkan namanya itu. Tak
lama, terdengarlah suara Fiqa yang sedang mengomel tidak jelas.
Fiqa dan Ryan memiliki hubungan
keluarga. Ayah mereka bersaudara. Ryan sering menginap di rumah Fiqa sewaktu
kecil dulu. Aku mengenal mereka juga sejak kecil. Aku tinggal di kompleks yang
sama dengan Fiqa. Sejak kecil kami sering bermain bersama. Walaupun sebenarnya,
aku tak bisa ingat bagaimana kami dulu berteman. Kecelakaan setahun lalu
membuatku kehilangan sebagian ingatan masa kecilku.
Dari ujung mataku, kulirik
Ryan. Tangannya dimasukkan di saku celananya. Kulirik wajahnya. Datar. Ku lihat
matanya, dia menatap ke arahku. Pandangan kami bertemu sejenak, lalu dengan
cepat dia membuang muka. Aku masih menatapnya, heran. Kuperhatikan lagi
wajahnya yang mulai memerah itu. Entah mengapa, kurasakan juga wajahku mulai
panas. Mungkin sekarang wajahku juga sudah mulai memerah.
‘Apaan
ini? Kenapa dadaku berdegup keras? Kenapa wajahnya merah?’
Berbagai pertanyaan itu muncul di benakku. Kurasakan dadaku sesak. Segera aku
mengalihkan pandanganku. Dari sampingku, dapat kudengar Fiqa masih mengomel.
Namun tak lama, dia kembali menjerit. Segera aku berbalik. Kulihat Ryan telah
pergi berlalu dengan sebuah bola basket di tangannya. Kutatap wajah Fiqa yang
memerah. Kebiasaannya yang tak pernah berubah jika dia sedang merasa kesal.
Tak lama, Fiqa segera
menarik lenganku. Dia menarikku dengan setengah berlari. Hingga akhirnya kami
sampai di kelas. Wajah Fiqa masih memerah. Dengan wajah manyun dia terus
berceloteh tentang kekesalannya. Kelas XI IPS 1 terdengar sangat ramai oleh
suara Fiqa yang sedang berceloteh. Namun, aku tak begitu menghiraukan
celotehnya itu.
“Eh, tadi kamu lihat
wajahnya merah gak?” Tanya Fiqa tiba-tiba.
“Ya, aku melihatnya.”
Jawabku pelan sambil memperbaiki letak kacamata ku. Aku tak bisa menanggapinya
dengan baik.
“Aneh. Yang aku tau,
wajah Kak Ryan akan memerah kalau dia sedang malu. Apa dia malu tadi?” Aku
tersentak mendengarnya. Badan ku terasa kaku, dadaku sesak, tubuhku pun menjadi
dingin, tak bisa memberinya tanggapan yang sesuai dengan keinginannya. Hingga
akhirnya lonceng tanda masuk berbunyi.
***
Mentari terasa sangat
kubutuhkan saat ini. Hujan terus menderu di balik paying ku. Tetes demi tetes
air terus membasahiku. Rasanya dadaku masih saja sesak. Entah apa yang harus kuperbuat.
Bayangan wajahnya yang sedang memerah itu terus melintas di kepalaku. Kacamataku
yang lembab membuat pandanganku semakin tak jelas. Kuputuskan untuk melepas
kacamata itu, lalu kumasukkan ke saku jaketku.
Aku terus berjalan di
bawah derasnya air hujan. Payung yang tadi kubawa baru saja kuberikan pada
seorang gadis kecil yang kedinginan di pinggir jalan. Wajah gadis kecil itu
mengingatkanku pada mimpiku. Mimpi yang telah berhari-hari kualami. Entah
mengapa mimpi itu terasa tak asing. Namun aku sama sekali tidak dapat mengingat
kapan kejadian dalam mimpi itu terjadi. Rasanya kepalaku terasa berdenyut
ketika mencoba untuk mengingat kembali mimpi itu.
Aku masih berjalan di bawah
derasnya air hujan. Kepalaku terasa sangat berat. Pandanganku yang tak jelas
semakin rabun kurasa. Tubuhku mulai menggigil. Kakiku pun terasa mulai berat
kulangkahkan. Kepalaku terasa semakin tak menentu. Dadaku yang sesak membuatku
semakin sulit berjalan. Dan setelah itu, entah apa yang terjadi. Hanya gelap,
hanya gelap yang ku lihat.
***
Terdengar suara jeritan
dari gadis kecil itu. Mereka berkelahi. Walau kalah jumlah, namun bocah
laki-laki yang membelaku itu nampak tangguh. Wajahnya berdarah. Nampak darah
segar dari kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa. Bapak
itu melerai mereka. Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia mencoba mendekati
bocah laki-laki yang telah menolongnya itu. Bocah itu terkapar di tanah.
Wajahnya berdarah.
Gadis itu mengeluarkan
sebuah kain dari sakunya. Dia mencoba untuk membersihkan darah-darah itu. Saat
gadis itu menyeka darah di kepala bocah itu, aku dapat melihat senyumnya.
Senyuman dari ujung bibir bocah itu. ‘Ah!’
Aku tersentak. Bocah itu menggenggam tangan kecil gadis itu. Aku merasakan
hangat dari tangan bocah itu. Sebuah scraft beruang dengan sebuah lonceng di
bawahnya diselipkan oleh bocah itu. ‘Apa
ini?’
-------------
Mimpi itu lagi. Aku
baru saja membuka mataku, ketika kusadari aku mengalami lagi mimpi itu untuk
kesekian kalinya. Kutatap sekeliling. Putih. Sebuah jendela besar di samping
kananku menerangiku dengan cahaya dari lembayung. Kembali aku melihat sekelilingku.
Seorang cowok dengan tubuh kekar sedang menatapku. Digenggamnya tanganku dengan
kuat. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, bahkan setelah aku mencoba
menyipitkan mataku. Tak lama dia segera mengambil sebuah jaket yang sangat
basah di lantai. Dirogohnya saku jaket itu, lalu dengan cepat dia berjalan ke
arahku.
Sebuah kacamata
disematkannya di wajahku. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Ryan. Dia
sedang menatapku dengan wajahnya yang sangat cemas. Kembali dia menggenggam
tanganku. Kurasakan tangannya yang hangat itu. Ku lirik wajahnya yang sedang
menatapku. Sebuah senyum dari ujung bibirnya nampak mekar. ‘Ah! Senyum itu.’ Aku mencoba bangkit dari tempatku berbaring.
Terasa kepalaku sangat sakit.
“Jangan! Kamu istirahat
saja dulu.” Kata cowok itu mencoba menidurkanku kembali.
“Kamu? Apa kamu yang
waktu itu? Scraft itu?” Tanyaku
dengan tergesa-gesa. Sejenak dia menghela nafas, lalu menunduk dan dengan pelan
melepas tanganku.
“Ya, itu aku.” Kata Ryan
dengan senyum khasnya.
Aku tak dapat berkata
apa-apa lagi. Kurasakan mengalir beberapa tetes air dari ujung mataku. Hangat
dari tangan Ryan menjalar ke tubuhku. Wajahnya masih tersenyum. Entah mengapa,
mengetahuinya membuatku merasa lega. Dadaku tak terasa sesak lagi. Untuk
pertama kali, aku merasa lega dan bahagia seperti saat ini. Walau aku tak bisa
mengingatnya dengan baik, namun secara samar mimpi itu mengingatkan ku lagi. Mimpi itu membuka kembali memoriku yang hilang. Memori tentang dia. Memori tentang bocah itu. Ya, bocah
itu Ryan. Bocah dalam mimpi ku itu, bocah yang menolongku itu. Dia Ryan.
nb :
Penulis : Zakiyah Taqiyah

0 komentar:
Posting Komentar