“Siapa namamu ?” Seseorang bertanya padaku.
“Kiya. Zakiyah Taqiyah.” Aku menjawab sambil menundukkan
wajah.
Dulu, aku malas untuk menyebutkan namaku. Aku tidak punya
kebanggaan untuk nama itu. Tidak seperti adik ku, yang namanya diambil dari
salah satu nama sahabat Nabi. Paling tidak, banyak yang kenal nama itu.
Dibanding namaku, yang bahkan sangat sedikit orang yang tahu artinya.
Selain karena nama ku tidak terkenal, aku juga bukan
seseorang yang patut dibanggakan. Saat aku menyebut nama ku di sekolah, di
rumah, di keluarga, tidak ada apapun untuk mereka yang mendengar merasa bangga
dengan namaku. Aku tidak berprestasi apapun, baik di rumah maupun di sekolah.
Tidak ada yang patut aku banggakan.
Aku selalu menjadi seseorang yang berbeda dimanapun aku berada.
Bahkan hingga kini, aku belum tau akan menjadi seperti apa diriku kelak. Aku
selalu berpura-pura, menjadi seperti apa yang ada di sekitar ku. Saat aku
berada di dekat teman yang feminin, aku akan menjadi seseorang yang feminin.
Sebaliknya, jika aku berada dekat dengan seorang teman yang tomboy, aku akan
menjadi seseorang yang tomboy. Ya, aku selalu berpura-pura.
Dulu, aku tidak tahu mengapa aku melakukan itu. Aku hanya
terus menjalaninya. Menjadi seperti apa yang ada di sekitar ku. Tapi, setelah
sekian waktu berlalu. Aku tumbuh menjadi sedikit lebih dewasa. Aku jadi sedikit
lebih tahu arti hidup ini. Saat memikirkan arti hidup ini, aku selalu berpikir
tentang apa yang selama ini ku lakukan. Aku selalu berubah-ubah, sesuai dengan
siapa yang ada di sekitarku. Aku bertanya mengapa ? Untuk apa ?
Selama beberapa waktu, aku terus memikirkan itu. Aku terus
memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga akhirnya, aku tahu
jawabannya. Aku merasa yakin, itulah jawaban dari semua pertanyaan itu. Yah,
aku tahu mengapa dan untuk apa.
Bagaimana aku mengetahuinya ? Mungkin itu akan menjadi
jawaban yang sangat lucu. Akan terdengar sangat konyol saat aku menjelaskan
bagaimana. Tapi, tetap akan aku jelaskan.
Saat itu, usia ku 12 tahun. Tidak lama lagi genap 13 tahun. Aku
dekat dengan beberapa orang, yang bisa dibilang sedikit tomboy. Seperti biasa,
aku kemali berpura-pura. Menjadi seperti mereka. Entah sejak kapan, mereka
mulai membicarakan tentang sebuah kartun buatan jepang. Judulnya, “Naruto”.
Sebelum itu, aku sudah pernah mendengar tentang kartun itu. Jadi, sedikit aku
tahu tentang alur ceritanya. Tapi, aku hanya sekedar tahu. Aku belum pernah
betul-betul memahami alur cerita kartun itu.
Saat aku mulai tertinggal saat yang lain seru membahas
kartun itu, aku merasa perlu untuk ikut mengetahui cerita sebenarnya tentang “Naruto” itu. Aku
mulai membacanya, hingga akhirnya aku betul-betul mengerti. Awal aku
membacanya, aku hanya berniat supaya aku tidak ketinggalan saat yang lain
membahas “Naruto”. Tapi, setelah aku membacanya lebih jauh, aku jadi tertarik.
Aku tidak lagi sekedar ingin tahu, tapi aku betul-betul ingin tahu. Aku
memahami setiap detail dari kehidupan “Naruto”. Aku memahami segala hal yang
perlu aku pahami.
“Naruto”, seorang bocah yang tidak memiliki orang tua,
saudara, bahkan seorang teman pun. Sejak dia dapat melihat dunia, semua yang
ada di sekitarnya terus mencibir dan menghinanya. Semua menjauhi dan
menganggapnya sebagai pengganggu. Tidak ada yang mengharapkan kehadirannya.
Tidak ada yang menanti kedatangannya. Tidak ada yang menganggap keberadaannya
keberadaannya. Dia selalu sendiri tanpa seorang pun yang dapat diajaknya
berbicara.
“Naruto”, mendapat perlakuan buruk dari orang sekitarnya.
Dia diperlakukan seperti seseorang yang berbahaya. Setiap orang tua
menghindarkan anaknya bermain dengan dia. Walaupun sejak kecil mendapat
perlakuan seperti itu, tapi dia tidak tahu mengapa dia diperlakukan demikian.
Dia tidak tahu apa yang ada dalam dirinya, sehingga semua merasa takut dengan
keberadaannya. Dia terus bertanya, walau tidak tahu harus bertanya pada siapa.
Dia terus mencari tahu, walau tidak tahu harus mencari tahu kemana.
“Naruto”, dalam kesendiriannya, tidak pernah berputus asa. Dia
terus berlari, berlari, dan berlari. Aku sebenarnya tidak mengerti, mengapa dia
tidak menyerah saja untuk hidupnya ? Mengapa dia justru terus berlari dengan
penuh semangat ? Dia melakukan hal yang sungguh luar biasa menurutku. Ditengah
kesendirian dan ketidakmampuannya, dia justru mempunyai sebuah impian besar. Dia
bermimpi, suatu saat nanti dia ingin menjadi seorang “Hokage”. Jika itu di
dunia nyata, berarti dia ingin menjadi seorang Presiden.
Sungguh hal yang luar biasa menurut ku. Tapi, bukan itu yang
menjawab semua pertanyaan ku. Bukan keinginannya untuk menjadi “Hokage” yang
membuat ku mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu ku.
Mengapa aku berpura-berpura ? Untuk apa aku terus berpura-pura menjadi orang
lain ? Itu karena impian “Naruto”. Impiannya yang sangat konyol bagi sebagian
orang.
Mengapa konyol ? Aku berkata seperti itu, karena tidak semua
orang tahu mengapa dia mengimpikan hal itu. Tidak semua tahu arti dari
impiannya itu. Yah, “Naruto” hanya inginginkan satu hal dalam hidupnya. Dia
ingin menjadi seorang “Hokage”, agar semua orang menetahuinya. Agar semua orang
mengetahui keberadaannya. Agar semua menanti kehadirannya. Dan yang terpenting,
agar semua tidak mngucilkannya lagi.
Berharap orang lain menganggapnya. Itulah jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganggu ku. Mengapa aku berpura-pura ?
Karena kau ingin orang lain menganggap ku ada. Untuk apa aku berpura-pura ?
Agar semua tidak mengucilkanku. Saat itulah, aku jadi sadar. Menjadi orang lain
itu tidak akan menyelesaikan semuanya. Seperti “Naruto”, aku akan menjadi diriku
sendiri dan membuat semua tahu keberadaan ku. Menjadi diri sendiri dan membuat
semua mengakui kehebatanku.
Konyol memang, tapi aku mengagumi sosok “Naruto”. Walau cuma
hasil imajinasi orang lain, tapi aku terus menjalani hidup karenanya. Sekarang,
jika ada yang menanyakan nama ku. Aku akan menjawab dengan lantang dan percaya
diri.
“Namaku, Zakiyah Taqiyah.”

0 komentar:
Posting Komentar