Aku selalu
berfikir ingin bertemu “Peterpan” dan
hidup abadi sebagai anak-anak di “Never Land”. Aku tak ingin menjdi dewasa, aku
benci menjadi dewasa, aku takut menjadi dewasa.
Aku selalu
berfikir ingin bertemu “Peterpan” dan
hidup abadi sebagai anak-anak di “Never Land”. Aku tak ingin menjdi dewasa, aku
benci menjadi dewasa, aku takut menjadi dewasa.
* *
*
Seperti
pagi-pagi sebelumnya, aku bangun dan melaksanakan sholat shubuh bersama Ibu.
Tapi hari ini adalah hari Minggu. Aku akan segera ke gereja untuk beribadat
bersama ayah dan Mas Rama. Ayah akan sangat marah jika aku tidak ikut
bersamanya ke gereja. Aku masih terlalu kecil untuk tahu apa yang ku lakukan
itu baik atau buruk.
Mungkin memang selamanya aku akan menjdi seorang
kristiani. Tapi aku tidak akn pernah bisa melupakan seluruh ibadah umat Islam
yang telah Ibu ajarkan padaku. Ibadah-ibadah yang lebih menenangkan hati ku.
Selamanya akan selalu ku ingat, walau aku tidak akan bias melaksanakannya lagi
suatu hari nanti.
Ayah dan Mas Rama telah menanti ku di halaman. Sedangkan
aku masih juga sibuk dengan rambutku. Tangan ku yang kecil
kesulitan untuk menguncir rambut ku yang tebal itu. Namun tepat ketika aku
telah berhasil menguncir rambut ku, sebuah suara keras terdengar dari luar
pintu kamar ku.
Sisir
yang tadinya ku genggam erat, terjatuh begitu saja mendengar suara itu. Detik
kemudian aku telah berlari untuk membuka pintu kamar ku. Entah mengapa ada
perasaan aneh menggelayut di hati ku. Seketika saja aku mengingat Ibu. Dan
betul saja. Ketika aku membuka pintu, betapa terkejutnya aku melihat sesosok
tubuh yang telah layu terbujur kaku di hadapan ku.
Tiba-tiba
saja aku kehilangan
keseimbangan tubuh ku dan jatuh terduduk di sisi tubuh Ibu. Bibi yang baru saja
datang melihat Ibu, lalu segera berlari turun untuk memanggil Ayah. Aku yang
masih terduduk itu berusaha meraba tubuh Ibu. Ku raih tangannya, dan ku genggam
erat seakan tak ingin melepasnya.
“Ibu…”
kata ku lirih dengan sudut mata yang telah dialiri sekian banyak air mata.
Ayah datang
dengan tergopoh-gopoh. Ia dan Mas Rama sangat terkejut melihat keadaan Ibu.
Ayah segera meminta Mas Rama menenangkan ku. Mas Rama lalu merangkul ku dan
membawa ku menjauh dari Ibu. Sedangkan Ayah dengan sekuat tenaga menggendong
Ibu menuju mobil dan segera melaju menuju rumah sakit. Aku yang duduk di
samping Ayah tak dapat berhenti terisak. Aku sangat shok melihat keadaan Ibu.
* *
*
Setiba di
rumah sakit, seorang dokter segera memeriksa Ibu dalam ruangan yang tertutup
dengan tulisan ICU di atas pintunya. Aku tak tahu apa artinya, tapi aku yakin
itu adalah ruangan yang sangat mengerikan. Aku hanya terduduk lemas di samping
Ayah. Aku masih terisak, walau tidak lagi mengeluarkan suara.
“Ibu
kenapa Yah ? Ibu baik-baik aja kan ?” Tanya ku kepada Ayah dengan wajah yang
begitu khawatir.
“Ibu akan
baik-baik aja, sayang. Kamu
berdo’a saja buat Ibu. Kamu jangan nangis lagi
ya. Dokter telah menangani Ibu.” Kata Ayah mencoba menenangkan ku.
Tidak
berapa lama, seorang dokter keluar dari ruangan Ibu diperiksa. Itu dokter yang
tadi ku lihat. Wajahnya begitu pucat. Melihatnya saja membuat ku takut. Aku
lalu memeluk tubuh Ayah dengan kuat. Aku tak ingin Ayah melepasku. Namun
tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepala ku. Ku angkat wajah ku, ku lihat dokter
itu di sana.
“Kamu
yang bernama Za ? “ Tanya dokter itu, dan ku jawab dengan anggukan.
“Ayo
masuk ! Ibu mu ingin kamu menemuinya.”
Mendengar
dokter itu, sebersit senyum ku mengembang. Aku harap itu adalah hal baik. Seorang suster lalu meraih tangan ku dan menuntun ku
menuju kamar Ibu. Sebelum masuk, aku dikenakan sebuah kain berwarna biru dan
juga sebuah masker wajah. Aku tak tahu mengapa aku harus mengenakannya. Tapi
aku yakin, itu demi kebaikan ku dan Ibu.
Tiba di
dalam kamar itu, aku melihat begitu banyak peralatan dokter yang belum pernah
ku liahat sebelumnya. Aku sempat merasa takut melihat seluruh alat-alat itu
hingga mata ku tertuju pada sebuah ranjang. Aku melepas tangan ku dari suster dan segera berlari
menuju ranjang itu. Di sana, dapat ku lihat tubuh ibu yang sangat kurus. Di
wajahnya dipasang sebuah alat berselang yang menutupi mulut dan hidungnya.
Diujung selang itu ada sebuah tabung mirip tabung gas yang ada di rumah namun
dengan ukuran yang lebih besar.
Suster
membantu ku untuk duduk di sisi ibu. Melihat ku berada di sampingnya, ibu
membuka alat di wajahnya tadi. Ibu meraih tangan ku dan menggenggamnya erat.
Kurasakan aliran dingin di tangan ibu. Dan tanpa kusadari, air mata ku kembali
terjatuh.
“Ibu...”
kata ku dengan suara bergetar.
“Sayang,
kenapa kamu nangis ? Ibu tidak apa-apa sayang. Kamu jangan nangis, ya. Ibu
tidak mau kamu nangis. Ibu mau kamu kuat, jangan manja begini. Nanti kamu akan
merepotkan Ayahmu jika manja begini terus.” Kata ibu dengan suara terbata.
“Ibu mau
kemana ?”
“Ibu gak
akan kemana-mana sayang. Ibu akan selalu ada disini, di hati kamu. Kamu jaga
Ayah dan Mas kamu, yah. Kamu juga harus janji sama ibu, kamu gak akan nangis
lagi apapun yang kamu hadapi nanti. Kamu satu-satunya harapan ibu, Za. Jaga ini
baik-baik !” Ibu lalu memberikan sebuah liontin kepada ku.
“Ibu...
Aku gak mau ibu pergi, aku sayang ibu.”
“Sekarang
kamu keluar yah. Ibu mau istirahat. “
“Tidak,
aku gak mau ninggalin ibu sendiri di sini.”
Tiba-tiba saja ibu mengerang kesakitan. Suster yang sejak
tadi menemani kami lalu keluar memanggil dokter. Aku hanya berteriak ketakutan.
Entah mengapa aku merasa ibu akan pergi meninggalkan ku selamanya. Dokter
datang bersama Ayah dan Mas Rama.
Ayah lalu meminta Mas Rama untuk mengeluarkan ku dari kamar itu. Aku berusaha
menolak, namun aku merasa kelelahan hingga tak dapat menolak dengan kuat. Mas
Rama lalu menggendong ku keluar. Aku melihat Mas Rama juga menitikkan air mata.
Sedih yang kurasakan terasa sangat menyakitkan. Aku lalu tak sadarkan diri
karena lelahnya.
* *
*
Aku
terduduk lemas dalam pelukan ayah. Kulihat di hadapanku sosok tubuh yang telah
terbungkus rapi oleh kain kafan. Tak pernah kubayangkan ibu ku yang ada di
dalam sana. Kutatap ke segala arah rumah ku. Beberapa keluarga yang hadir
menangis terisak. Dan untuk pertama kalinya ku lihat nenek ku di sini. Nenek
sangat sedih. Ia bahkan sempat jatuh pingsan beberapa kali. Namun, aku belum
melihat kakek. Hanya Tante Inah yang menemani nenek.
Tidak lama
kemudian tubuh ibu diangkat menggunakan keranda. Mereka membawa ibu ke sebuah
mesjid. Ibu di sholatkan di sana. Ayah masih menggendong ku sembari menanti
prosesi menyolatkan ibu usai. Dari raut wajah ayah, nampak jelas ayah begitu kehilangan
ibu. Aliran bening tak henti-hentinya membasahi pipi ayah.
Selang
beberapa lama, suara sebuah mobil terparkir di depan rumah kami. Ayah menengok
keluar. Aku ikut melirik siapa yang datang. Seorang wanita paruh baya dengan
jilbab panjang turun dari mobil itu. Dari seberang seorang wanita yang nampak
masih sangat muda turun dan berlari kecil menghampiri ibu tua tadi. Wanita muda
itu juga memakai jilbab panjang.
Mereka
lalu mendekat. Dengan jarak tak begitu jauh, aku dapat melihat tubuh mereka
bergetar. Mereka tengah menahan tangis. Nampak mereka sangat sedih. Aku tak
tahu siapa mereka. Tapi mereka telah sangat lancang masuk ke dalam rumah kami
tanpa permisi, bahkan kepada Ayah yang telah berdiri di ambang pintu.
Mereka
berdua telah berada di hadapan mayat Ibu. Wanita paruh baya itu dengan
tangannya yang sangat renta berusaha membuka kain penutup wajah Ibu. Ingin
rasanya aku segera mencegahnya. ‘Sangat lancang.’ Pikirku kala itu. Namun
melihat Ayah yang hanya menunduk, aku segera mengurungkan niat itu. Ayah pasti
memiliki penjelasan atas hal ini
“Anakku..
Kau pergi.. Mendahului Ibu, nak.. Kau..” Kalimatnya yang tergagap itu terhenti
oleh tangisnya yang tiba-tiba saja pecah.
“Ibu,
sudah. Ibu istirahatlah dulu. Pasti Ibu sangat lelah.” Kata wanita muda tadi.
“Mas, kamar mbak Imah dimana ?” Wanita itu lalu menatap ke arah Ayah.
“Di
sana dek. Biar Mas yang bawa Ibu.”
“Gak
usah, biar saya aja.”
Aku
bingung mendengar percakapan singkat itu. ‘Ibu’. Kata itu sangat fasih Ayah
katakan. ‘Apa wanita tua itu nenekku ? Apa dia Ibunda dari Ibu ku ?’ Batinku
tak menentu. Jika betul, ini kali kedua aku melihat nenekku. Pertama telah
terjadi saat aku masih berusia setahun. Aku tak lagi mengingat wajah nenek kala
itu.
‘Lalu,
siapa wanita muda yang bersamanya itu ? Apa dia Bibi ku ? Apa dia adik Ibu ?
Jika betul, berarti dia adalah Tante Inah.’ Batinku terus memburu. Ku tatap Mas
Rama yang telah gelagapan mengangkati barang bawaan mereka. Mas Rama melirikku.
Ia tersenyum. Aku tahu, Ia ingin mengatakan. “Ini tidak berat kok.” Padahal
sangat nampak bahwa barang itu sangat berat.
“Dia
nenek mu, dan itu Bibi mu. Mereka Ibu dan adik dari Ibu mu. Kau pasti
bertanya-tanya sejak tadi.” Kata Ayah tiba-tiba seakan dapat mendengar kata
hatiku. Aku hanya mengangguk. ‘Sudah kuduga.’ Batinku lagi.
* * *
Mayat
Ibu diangkat menuju sebuah mesjid. Ibu dishalatkan di sana. Aku tahu untuk apa
itu. Setelah mayat Ibu telah usai dishalatkan, para rombongan membawa Ibu dalam
sebuah mobil. Masih dalam pelukan Ayah, aku berharap Ayah akan membawaku ikut
bersama Ibu. Namun tidak. Ayah lalu memberiku pada Bi Ona.
“Sayang,
kamu jangan ikut ya. Anak-anak gak boleh ikut ke
pemakaman. Kamu disini saja sama Bi Ona.” Kata ayah saat jamaah yang menyolatkan
ibu keluar dari mesjid.
“Gak ayah, aku mau ikut. Aku mau lihat ibu.” Rengekku
saat ayah memberi ku pada Bi Ona.
“Sudah, jangan manja begitu. Ayah yang akan mengantarkan
ibu kamu.” Kata ayah kemudian.
Aku tidak merengek lagi. Entah mengapa aku tiba-tiba saja mengingat
kata-kata ibu. Aku harus kuat. Aku tidak boleh nangis lagi. Ditemani bibi, aku
hanya bisa melihat ibu dari jauh. Untuk terakhir kalinya, aku melihat ibu. Tak
akan pernah lagi kulihat senyum ibu. Tak ada lagi belaian ibu. Tak aka nada
lagi…
* *
*

0 komentar:
Posting Komentar